Pemilu 2009 masih menyisakan banyak cerita indah. Semangat direct selling
masih terasa hingga 2014. Yang membedakan adalah status penulis. Tahun
2009, dengan semangat mahasiswa -penulis dan teman-teman berkeliliing
Kota Makassar memperkenalkan partai dakwah dengan nomor 8. Perasaan
“bangga” terselip mengenakan jaket hitam dengan tulisan “Lokomotif
Ummat” yang dibagikan oleh Bapak Presiden PKS - Anis Matta, yang saat
itu dicalonkan menjadi Aleg DPR RI dapil 1 Sulawesi Selatan.
Saat ini, Pemilu 2014 tetap semangat melayani masyarakat meski status
berubah menjadi ibu rumah tangga. Perut buncit dengan usia kehamilan 20
pekan lebih tak menyurutkan semangat penulis untuk memenangkan dakwah di
Kota Parepare. Yah, saat ini penulis diberi amanah menjadi salah
seorang caleg perempuan di Kota Parepare,Sulawesi Selatan.
Usia 26 tahun. Sebuah episode kehidupan yang begitu berharga tuk diambil
maknanya. Yang semula mengenalkan qiyadah kepada masyarakat, sekarang
harus menenteng kartu nama dan kalender bergambar diri sendiri. Amanah. Meski terkadang berat, namun jika diberikan -sebagai muslim- kita tidak boleh menolaknya.
Suatu hari penulis jalan bersama tim pemenangan (hehe, timnya adikku
sendiri). Matahari tepat diatas kepala kami, tak menyurutkan langkah
kami berdua tuk memasang spanduk disebuah rumah kerabat. Berbekal tali,
gunting, dan spanduk yang sebelumnya telah dipasangkan bambu di sisi kanan kirinya.
Ada beberapa orang yang lewat saat itu, dan singgah sebentar melihat
kami. Diantara mereka mungkin ada yang iseng mencocokkan gambar wajah
yang dispanduk dengan sosok perempuan hamil yang memasang spanduk saat
itu. Raut wajahnya seakan berkata kemana tim suksesnya caleg ini, sampai
dia sendiri yang harus memasang spanduknya? Apa susahnya membayar orang
lain tuk mengerjakan pekerjaan tersebut? Daripada capek bercucuran
keringat..hamil pula!! Hehehe..
Pernah juga ketika direct selling,
seorang warga bertanya, “Berapa duit yang PKS siapkan untuk
pemilihnya?”. Ketika kami menjelaskan bahwa PKS tidak membagi-bagikan
uang, warga tersebut langsung tertawa sambil berkata “Aiii…caleg PKS
anggota ICMI”.
Kami juga tertawa, dan menanyakan maksud anggota ICMI. Ternyata yang
dimaksudkan warga dengan ICMI bukan Ikatan Cendikiawan Muslim, tetapi
Ikatan Caleg Miskin. Yaah, kami semua tertawa dan membenarkan candaan
warga tersebut.
Inilah realita kami di PKS. Caleg tidak selamanya berasal dari kalangan
yang berduit saja. Ketika caleg tersebut dianggap mampu mengemban amanah
jamaah dan bersedia diberikan amanah, kenapa tidak? Dari tukang sol
sepatu hingga pengusaha kaya raya, semua memiliki derajat yang sama di mata Allah. Bukankah yang membedakan kadar ketaqwaannya?
Penulis yakin, ada banyak caleg muda PKS yang mempunyai nasib serupa
dengan penulis. Kalau warga mengistilahkan “caleg miskin”. Secara financial
mungkin ia. Dana yang kita miliki belum sebanyak dana para caleg partai
lain. Namun sekecil apapun kontribusi kita, tak akan pernah luput dari
pencatatan Allah swt. Ridho dengan keputusan jama'ah tuk memasukkan nama
kita saja, insya Allah sudah bernilai kebaikan di mata Allah.
So…caleg PKS yang merasa anggota ICMI (Ikatan Caleg Miskin), hehe..
jangan berkecil hati yak! Teruslah bekerja..masyarakat Indonesia masih
merindukan karya nyata kita. Allahu Akbar!!
___
*Penulis: A.Tien Asmara Palintan, S.Psi
Caleg PKS Dapil 3 Bacukiki-Bacukiki Barat
Kota Parepare – Sulawesi Selatan
No comments:
Post a Comment
Kritik dan saran serta komentar anda adalah perhatian kami