Islamedia
Tulisan Menarik Buat Yg Pro Maupun
Kontro Pencapresan Jokowi
5 April 2014 at 19:43
Sudah hampir satu minggu ini pro
kontra mengenai pencalonan
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo
atau yang biasa disapa dengan
Jokowi, untuk menjadi calon
presiden dari PDIP cukup banyak
menghiasi timeline baik di media
sosial ataupun headline media
cetak.
Di wall pribadi saya pun juga
beberapa kali saya tampilkan link-
link berita yang cenderung kontra
(tidak setuju) dengan berita
pencapresan Jokowi tersebut. Dan
karena seringnya saya menuliskan
link-link tersebut sampai ada yang
menilai bahwa saya menjadi Jokowi
Haters, hehehe...
Uuuuupppss, jangan salah menilai
dulu tanpa tahu sebab musababnya.
Jauh sebelumnya sesungguhnya saya
justru fans berat Jokowi. Terlebih
lagi ketika dulu booming-booming
nya Mobil Esemka yang sempat di-
endorse oleh Pak Jokowi, dan
digadang-gadang akan dijadikan
sebagai proyek mobil nasional.
Wooooww, langsung saja hal itu
membuat saya termehek-mehek.
Berbagai berita tentang Jokowi
selalu saya ikuti. Cerita
kesuksesannya di Solo yg legendaris
dengan memindah ratusan bahkan
ribuan PKL itu menjadi salah satu
kisah yang menarik. Hingga akhirnya
Jokowi akan maju sebagai Cagub DKI
pun ada rasa bangga.
"Wah kapan lagi DKI bisa 'diperbaiki'
oleh anak daerah yang berprestasi?",
itu pikiran saya dulu.
Harapan besar agar Jokowi bisa
menang dalam Pilgub DKI sangat
menggodaku untuk menularkan virus
Jokowi ini. Video kampanya Tim
Jakarta Baru yang bisa dilihat di
Youtube dan berdurasi sekitar satu
jam-an itu juga saya download dan
saya lihat berkali-kali tanpa bosan.
Dalam benak pikiran saya pun
mengatakan : "Nah, sepertinya ini
pemimpin yang ideal yang bisa
memperbaiki Jakarta"
Bahkan di twitter, akun
@triomacan2000 yang saat putaran
pertama sangat memuja-muja Jokowi
dan di putaran kedua berbalik arah
menyudutkan Jokowi pun bisa
membuat saya muak. "Ah, Pak Jokowi
tuh nggak seperti yang di-tweet-kan
@triomacan2000 itu"
Itu dulu. Sekali lagi, itu dulu. Beda
dengan sekarang...
Setelah akhirnya Jokowi bisa duduk
manis sebagai Gubernur DKI,
dipercaya dan diberikan amanah
oleh sebagian besar rakyat Jakarta
yang berharap banyak Jokowi bisa
mengabdikan diri buat Jakarta,
ternyata belum ada 2 tahun masa
jabatannya Jokowi sudah mulai
'berulah'. Mulai melirik rumput yang
lebih hijau yaitu dengan menjadi
Calon Presiden RI.
Hingga akhirnya memang Megawati
berbesar hati memberikan
mandatnya untuk mencalonkan
Jokowi sebagai calon presiden dari
PDIP. Dan siapa sangka, justru hal
inilah yang akhirnya justru membuat
saya yang dulu termehek-mehek
sama Jokowi jadi antiklimaks, tidak
respek sama sekali.
Tentu saja menjadi tidak respeknya
saya terhadap Jokowi itu bukannya
tanpa alasan. Ada banyak
penyebabnya yang mengakibatkan
saya menjadi tidak respek tadi. Dan
tidak respeknya itupun juga
sambung-menyambung sejak
mengendorse Esemka hingga
menjabat sebagai Gubernur DKI dan
diberi mandat sebagai capres oleh
Megawati.
Setidaknya saya mencatat ada 13 hal
yang menyebabkan saya yang
dulunya termehek-mehek sama
Jokowi akhirnya menjadi antiklimaks
menjadi tidak respek lagi. Sekali lagi
yang saya catat dan saya tuliskan ini
adalah berdasarkan sisi penglihatan
saya sebagai orang awam, Anda
boleh saja setuju ataupun tidak
setuju. Kalaupun Anda tidak setuju
ya itu adalah hak Anda, tidak perlu
berdebat kusir, silakan saja
membuat tulisan Anda sendiri
dengan argumen Anda sendiri.
Simpel.
Oke, tidak perlu berlama-lama, yuk
kita bahas 13 hal yang menjadi
alasan mengapa saya tidak setuju
Jokowi untuk jadi presiden yaitu :
1. Mendongkrak Popularitas Dengan
Mendompleng Esemka
Mau tidak mau, setuju tidak setuju,
pamor Jokowi di perpolitikan tingkat
nasional dimulai ketika muncul
berita Walikota Solo (saat itu dijabat
Jokowi) menggunakan mobil esemka,
yang diklaim sebagai hasil karya
anak bangsa. Bahkan gak tanggung-
tanggung impian memiliki mobil
nasional seakan menjadi didepan
mata.
Bahkan saking hebatnya dan
menjadi lebih populer lagi, Jokowi
merencanakan kalo mobil esemka
akan dijadikan mobil dinas walikota
dan wakil walikota solo. Bangga
menggunakan mobil karya anak
negeri, kira-kira begitu.
Dan bisa ditebak, masyarakat yang
mengikuti berita tersebut langsung
jatuh cinta. Baru kali ini ada
walikota yang membela produk lokal,
dan bahkan akan menggunakannya
sebagai mobil dinas..!! Kesan yang
tampak di masyarakat sudah pasti
adalah sebuah figur pemimpin yang
sederhana dan pro rakyat. Kesan
sebagai pejabat yang biasa
menggunakan fasilitas mewah
(termasuk diantaranya mobil dinas)
dengan mudah bisa dilepaskan oleh
Jokowi.
Sekarang kenyataannya kita
pertanyakan lagi komitmennya,
benarkah esemka sudah dijadikan
mobil dinas walikota dan wakil
walikota solo? Sudahkah ada
perkembangan sejauh mana proyek
esemka menjadi mobil masional itu
dilakukan? Anda bisa menilainya
sendiri...
Dan dari sini saya pribadi
berpendapat, Jokowi telah
memanfaatkan Esemka yang diklaim
sebagai produk lokal untuk
mendongkrak popularitasnya..!!
Setelah target popularitas tercapai
dan kursi DKI 1 ditangan, esemka
hanya tinggal kenangan...
2. Menelantarkan 'Nasib' Esemka
Saat booming-boomingnya Esemka
dan ada berita bahwa Jokowi ingin
menjadikan proyek mobil nasional,
saya langsung terbayang mimpi-
mimpi yang hebat terhadap rencana
tersebut. Akan membuka banyak
lowongan kerja yang baru dan bisa
mengurangi pengangguran. Itu
sudah pasti.
Perusahaan-perusahaan pengecoran
logam bisa dijadikan partnet untuk
memproduksi spare part-nya, anak-
anak lulusan SMK bisa banyak
ditampung bekerja, bila bisa
berjalan tentu bisa menggerakkan
lagi roda perekonomian di Kota Solo,
dan masih banyak lainnya.
Namun seperti peribahasa, "Habis
Manis Sepah Dibuang", ternyata ada
benarnya. Begitu target yang
diinginkan sudah tercapai, berhasil
meraih popularitas dengan
menunggang esemka, dan bisa
meraih kursi DKI-1, akhirnya Esemka
ditinggalkan begitu saja.
Entah, kelanjutan untuk diproduksi
massal sebagai mobil nasional bisa
jadi hanya sekedar mimpi besar di
siang bolong saja. Nasib beberapa
pesanan yang sudah sempat masuk
ordernya saat booming itu akhirnya
dikerjakan dan disupport habis sama
Jokowi atau tidak, itu juga menjadi
tanda tanya besar.
Hal ini menjadi salah satu alasan
yang menyebabkan saya menjadi
tidak respek dengan Jokowi lagi.
Memberi harapan kepada sesuatu
(dalam hal ini Esemka dan Pak
Sukiyat) namun tidak direalisasi,
bahkan malah cenderung
ditelantarkan.
3. Mudah Mengkhianati Amanah
Yang Telah Diberikan Oleh Rakyatnya
Bila diberi amanah maka dia
berkhianat. Saya ingat sekali dengan
kata-kata itu, yang sering dijadikan
bahan khutbah atau disampaikan
dalam pelajaran agama. Ini bukan
hal yang sepele dan ringan. Ini
masalah tanggung jawab yang besar
seseorang terhadap Tuhannya..!!
Ya, kita tahu bahwa Jokowi telah
menjadi Walikota Solo 2 periode.
Yang pertama diselesaikan dengan
sempurna. Yang kedua, belum
selesai masa jabatannya sudah
lompat pagar menjadi Gubernur
DKI. Dan sekarang sudah jadi
Gubernur DKI, belum selesai masa
jabatannya sudah mau lompat lagi
menjadi calon presiden..!!
Ckckckckck... Kok ya bisa, semudah
itu untuk mengkhianati amanah
yang telah diberikan oleh rakyat
kepadanya?
Untuk kasus yang di Solo ke Jakarta
waktu itu saya masih berusaha
untuk menerimanya. "Ah gak papa,
toh yang periode pertama sudah
selesai sampai akhir masa
jabatannya, dan yang periode yang
kedua pak wakil walikotanya sudah
paham dengan cara kerja walikota".
Itu pendapat saya dulu.
Lha, sekarang kok terjadi lagi. Belum
selesai masa jabatannya, baru juga
1.5 tahun menjabat sebagai
Gubernur DKI, lha kok sudah mau
lompat lagi menjadi calon presiden?
Sungguh tingkah yang dimata saya
tidak profesional.
Apakah tidak berpikir bahwa rakyat
Jakarta memilihnya dalam Pilgub DKI
itu tentu mereka memiliki harapan
yang besar bahwa dalam 5 tahun
kepemimpinannya bisa membawa
perubahan yang signifikan untuk
Jakarta. Pilgub yang di biayai
menggunakan uang rakyat dan
jumlahnya milyaran seakan-akan
tidak dihiraukan lagi.
Tidak ingat lagi bahwa Jokowi dipilih
oleh rakyat, dan rakyat memberikan
amanahnya untuk menjadi
pemimpinnya.
Semudah itukah mengkhianati
amanah yang sudah diberikan oleh
rakyat yang sudah banyak berharap
agar pemimpinnya bisa memberikan
yang terbaik kepada rakyatnya
hingga selesai akhir masa
jabatannya?
Hmmmm, silakan Anda pikirkan
sendiri, kalo saya yang pasti
gemas..!
4. Tidak Berjiwa Nasionalis
Coba Anda telusuri berita-berita
yang heboh mengenai monorel
jakarta dan bus transjakarta. Kira-
kira monorel yang dipakai serta bus
transjakarta yang dipesan itu hasil
produksi dari mana?
Jawabannya satu : Dari CHINA..!!
Ya, monorel jakarta dan bus
transjakarta yang digunakan itu
adalah produksi dari China. Ini yang
saya tidak habis pikir, kenapa kok
malah menggunakan produk dari
negara lain? Kok tidak menggunakan
hadil produksi dari karoseri lokal
saja?
Biasanya alasannya adalah itu
sudah sesuai dengan prosedur
tender. Produsen lokal ada yang
tidak memenuhi beberapa syaratnya,
dan harganyapun lebih mahal.
Sedangkan produk yang dari China
itu harganya lebih murah.
Hmmmmm.. Kalo menurut saya ini
alasan yang diada-adakan. Andai
pemimpin yang memiliki jiwa
nasionalis tentu akan lebih
mementingkan produksi anak bangsa
lebih dulu. Kenapa? Sebab uangnya
bisa berputar disini, uangnya
digunakan untuk membayar jam
kerja para buruh disini, uangnya
dipakai untuk membayar
kesejahteraan saudara sendiri di
negeri sendiri. Bukan membayar jam
kerja orang lain di negara orang
lain..!!
Ada juga berita yang saya baca
adalah produk dari China itu
harganya lebih murah 50 jutaan per
unitnya, kalo sekian ratus atau
sekian ribu yang dipesan,
harapannya bisa menghemat sekian
milyarrrr..!! Eh, tau-tau malah bus
yang didapat malah bus rekondisi
yang sudah karatan dan rusak..!!!
Bahkan dalam beberapa berita juga
saya temukan bahwa pemenang
tender bus transjakarta itu
kantornya saja susah ditemukan.
Sekalinya ditemukan, kantornya tidak
meyakinkan. Masa ada pemenang
tender yang nilainya ratusan milyar
kantornya cuma di ruko saja?
Ah entahlah yang jelas disini saya
tidak menemukan sisi nasionalisnya
Jokowi lagi seperti diwaktu dia mau
menggandeng Esemka, dimana
aroma jiwa nasionalisnya kental
terasa.
5. Bukan Contoh Pemimpin Yang
Gantleman
Masih teringat jelas ketika 'the
busway gate' rame jadi berita, baik
di media online atau media cetak.
Dalam kacamata saya, dengan
munculnya pemberitaan kasus 'the
busway gate' ini sangat jelas sekali
membuktikan bahwa Jokowi bukanlah
contoh pemimpin yang gantleman?
Pasti Anda akan bertanya, Apa
alasannya?
Oke. Skandal bus transjakarta yang
menggunakan dana milyaran itu
ternyata bermasalah. Budget
pembelian busway untuk setiap bus-
nya diatas angka 3 milyar. Sekali lagi
budgetnya adalah lebih dari 3
Milyar per bus. Bahkan dalam
sebuah berita ada yang menyebut
kalau Ahok menginginkan bisa
mendapatkan bus yang kualitasnya
selevel volvo atau mercedes. Namun
pada kenyataannya ternyata malah
mendapatkan bus dari China yang
rekondisi dan sudah berkarat pula.
Dalam kasus ini Kadis Perhubungan
DKI Jakarta, Udar Pristono,
menyatakan bahwa terjadinya
kerusakan (berkarat)-nya busway
yang diimpor dari China tersebut
karena terkena percikan air laut
pada saat proses ekspedisi ke
Indonesia. Jelas saja menurut saya
ini adalah sebuah alasan yang
sangat tidak masuk diakal. Mana
bisa bus yang saat pengiriman
tersebut berada di dalam kapal, tapi
masih juga terpercik air laut?
Hehehe...
Alih-alih langsung dengan
gantleman mengklarifikasi kejadian
sesungguhnya, dengan gantle minta
maaf atau mengambil tanggung
jawab anak buahnya itu, tetapi
malah mencari cari kesalahan dan
kambing hitam. Hingga akhirnya
berujung mutasi jabatan si Kadis
Perhubungan tersebut.
Bukannya seharusnya untuk proyek
yang nilainya milyarnya, terlebih
pengadaan barang, semua
spesifikasinya akan disebutkan
dengan jelas dan lengkap? Harusnya
antara Kadis dan Gubernur akan
tahu semuanya. Apabila ternyata
tertulisnya adalah produk yang
berkualitas selevel volvo atau
Mercedes namun akhirnya hanya
dibelikan bus China, sudah pasti ini
ada hal yang salah.
Nah, dimata saya pribadi langkah
memutasi Pak Kadis karena dianggap
bersalah dalam kasus ini tentu
bukan hal yang baik. Akan lebih
baik jika Jokowi langsung mengambil
alih tanggung jawab. Mengakui ada
kesalahan. Mengakui bahwa
(barangkali) ada yang gak bener
dalam proses pengadaannya, dan
minta maaf. Bukan malah mencari
kambing hitam..!!
6. Lebih Mementingkan Mandat atau
Kepentingan Partai
Dulu saya berpikir bahwa Jokowi
orangnya tegas dan sulit
diintervensi oleh partainya bila
berhubungan dengan pekerjaan.
Maksudnya akan lebih
mengutamakan pekerjaannya sebagai
Gubernur dulu daripada untuk
kepentingan partainya.
Namun ternyata dugaan saya itu
salah. Salahnya saja salah besar..!!!
Ternyata Jokowi lebih mementingkan
mandat adat kepentingan partai
daripada kepentingan rakyat yang
telah memberikannya amanah untuk
menjadi pemimpinnya.
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Jawa Barat dan Tulisan Menarik
Buat Yg Pro Maupun Kontro
Pencapresan Jokowi
5 April 2014 at 19:43
Sudah hampir satu minggu ini pro
kontra mengenai pencalonan
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo
atau yang biasa disapa dengan
Jokowi, untuk menjadi calon
presiden dari PDIP cukup banyak
menghiasi timeline baik di media
sosial ataupun headline media
cetak.
Di wall pribadi saya pun juga
beberapa kali saya tampilkan link-
link berita yang cenderung kontra
(tidak setuju) dengan berita
pencapresan Jokowi tersebut. Dan
karena seringnya saya menuliskan
link-link tersebut sampai ada yang
menilai bahwa saya menjadi Jokowi
Haters, hehehe...
Uuuuupppss, jangan salah menilai
dulu tanpa tahu sebab musababnya.
Jauh sebelumnya sesungguhnya saya
justru fans berat Jokowi. Terlebih
lagi ketika dulu booming-booming
nya Mobil Esemka yang sempat di-
endorse oleh Pak Jokowi, dan
digadang-gadang akan dijadikan
sebagai proyek mobil nasional.
Wooooww, langsung saja hal itu
membuat saya termehek-mehek.
Berbagai berita tentang Jokowi
selalu saya ikuti. Cerita
kesuksesannya di Solo yg legendaris
dengan memindah ratusan bahkan
ribuan PKL itu menjadi salah satu
kisah yang menarik. Hingga akhirnya
Jokowi akan maju sebagai Cagub DKI
pun ada rasa bangga.
"Wah kapan lagi DKI bisa 'diperbaiki'
oleh anak daerah yang berprestasi?",
itu pikiran saya dulu.
Harapan besar agar Jokowi bisa
menang dalam Pilgub DKI sangat
menggodaku untuk menularkan virus
Jokowi ini. Video kampanya Tim
Jakarta Baru yang bisa dilihat di
Youtube dan berdurasi sekitar satu
jam-an itu juga saya download dan
saya lihat berkali-kali tanpa bosan.
Dalam benak pikiran saya pun
mengatakan : "Nah, sepertinya ini
pemimpin yang ideal yang bisa
memperbaiki Jakarta"
Bahkan di twitter, akun
@triomacan2000 yang saat putaran
pertama sangat memuja-muja Jokowi
dan di putaran kedua berbalik arah
menyudutkan Jokowi pun bisa
membuat saya muak. "Ah, Pak Jokowi
tuh nggak seperti yang di-tweet-kan
@triomacan2000 itu"
Itu dulu. Sekali lagi, itu dulu. Beda
dengan sekarang...
Setelah akhirnya Jokowi bisa duduk
manis sebagai Gubernur DKI,
dipercaya dan diberikan amanah
oleh sebagian besar rakyat Jakarta
yang berharap banyak Jokowi bisa
mengabdikan diri buat Jakarta,
ternyata belum ada 2 tahun masa
jabatannya Jokowi sudah mulai
'berulah'. Mulai melirik rumput yang
lebih hijau yaitu dengan menjadi
Calon Presiden RI.
Hingga akhirnya memang Megawati
berbesar hati memberikan
mandatnya untuk mencalonkan
Jokowi sebagai calon presiden dari
PDIP. Dan siapa sangka, justru hal
inilah yang akhirnya justru membuat
saya yang dulu termehek-mehek
sama Jokowi jadi antiklimaks, tidak
respek sama sekali.
Tentu saja menjadi tidak respeknya
saya terhadap Jokowi itu bukannya
tanpa alasan. Ada banyak
penyebabnya yang mengakibatkan
saya menjadi tidak respek tadi. Dan
tidak respeknya itupun juga
sambung-menyambung sejak
mengendorse Esemka hingga
menjabat sebagai Gubernur DKI dan
diberi mandat sebagai capres oleh
Megawati.
Setidaknya saya mencatat ada 13 hal
yang menyebabkan saya yang
dulunya termehek-mehek sama
Jokowi akhirnya menjadi antiklimaks
menjadi tidak respek lagi. Sekali lagi
yang saya catat dan saya tuliskan ini
adalah berdasarkan sisi penglihatan
saya sebagai orang awam, Anda
boleh saja setuju ataupun tidak
setuju. Kalaupun Anda tidak setuju
ya itu adalah hak Anda, tidak perlu
berdebat kusir, silakan saja
membuat tulisan Anda sendiri
dengan argumen Anda sendiri.
Simpel.
Oke, tidak perlu berlama-lama, yuk
kita bahas 13 hal yang menjadi
alasan mengapa saya tidak setuju
Jokowi untuk jadi presiden yaitu :
1. Mendongkrak Popularitas Dengan
Mendompleng Esemka
Mau tidak mau, setuju tidak setuju,
pamor Jokowi di perpolitikan tingkat
nasional dimulai ketika muncul
berita Walikota Solo (saat itu dijabat
Jokowi) menggunakan mobil esemka,
yang diklaim sebagai hasil karya
anak bangsa. Bahkan gak tanggung-
tanggung impian memiliki mobil
nasional seakan menjadi didepan
mata.
Bahkan saking hebatnya dan
menjadi lebih populer lagi, Jokowi
merencanakan kalo mobil esemka
akan dijadikan mobil dinas walikota
dan wakil walikota solo. Bangga
menggunakan mobil karya anak
negeri, kira-kira begitu.
Dan bisa ditebak, masyarakat yang
mengikuti berita tersebut langsung
jatuh cinta. Baru kali ini ada
walikota yang membela produk lokal,
dan bahkan akan menggunakannya
sebagai mobil dinas..!! Kesan yang
tampak di masyarakat sudah pasti
adalah sebuah figur pemimpin yang
sederhana dan pro rakyat. Kesan
sebagai pejabat yang biasa
menggunakan fasilitas mewah
(termasuk diantaranya mobil dinas)
dengan mudah bisa dilepaskan oleh
Jokowi.
Sekarang kenyataannya kita
pertanyakan lagi komitmennya,
benarkah esemka sudah dijadikan
mobil dinas walikota dan wakil
walikota solo? Sudahkah ada
perkembangan sejauh mana proyek
esemka menjadi mobil masional itu
dilakukan? Anda bisa menilainya
sendiri...
Dan dari sini saya pribadi
berpendapat, Jokowi telah
memanfaatkan Esemka yang diklaim
sebagai produk lokal untuk
mendongkrak popularitasnya..!!
Setelah target popularitas tercapai
dan kursi DKI 1 ditangan, esemka
hanya tinggal kenangan...
2. Menelantarkan 'Nasib' Esemka
Saat booming-boomingnya Esemka
dan ada berita bahwa Jokowi ingin
menjadikan proyek mobil nasional,
saya langsung terbayang mimpi-
mimpi yang hebat terhadap rencana
tersebut. Akan membuka banyak
lowongan kerja yang baru dan bisa
mengurangi pengangguran. Itu
sudah pasti.
Perusahaan-perusahaan pengecoran
logam bisa dijadikan partnet untuk
memproduksi spare part-nya, anak-
anak lulusan SMK bisa banyak
ditampung bekerja, bila bisa
berjalan tentu bisa menggerakkan
lagi roda perekonomian di Kota Solo,
dan masih banyak lainnya.
Namun seperti peribahasa, "Habis
Manis Sepah Dibuang", ternyata ada
benarnya. Begitu target yang
diinginkan sudah tercapai, berhasil
meraih popularitas dengan
menunggang esemka, dan bisa
meraih kursi DKI-1, akhirnya Esemka
ditinggalkan begitu saja.
Entah, kelanjutan untuk diproduksi
massal sebagai mobil nasional bisa
jadi hanya sekedar mimpi besar di
siang bolong saja. Nasib beberapa
pesanan yang sudah sempat masuk
ordernya saat booming itu akhirnya
dikerjakan dan disupport habis sama
Jokowi atau tidak, itu juga menjadi
tanda tanya besar.
Hal ini menjadi salah satu alasan
yang menyebabkan saya menjadi
tidak respek dengan Jokowi lagi.
Memberi harapan kepada sesuatu
(dalam hal ini Esemka dan Pak
Sukiyat) namun tidak direalisasi,
bahkan malah cenderung
ditelantarkan.
3. Mudah Mengkhianati Amanah
Yang Telah Diberikan Oleh Rakyatnya
Bila diberi amanah maka dia
berkhianat. Saya ingat sekali dengan
kata-kata itu, yang sering dijadikan
bahan khutbah atau disampaikan
dalam pelajaran agama. Ini bukan
hal yang sepele dan ringan. Ini
masalah tanggung jawab yang besar
seseorang terhadap Tuhannya..!!
Ya, kita tahu bahwa Jokowi telah
menjadi Walikota Solo 2 periode.
Yang pertama diselesaikan dengan
sempurna. Yang kedua, belum
selesai masa jabatannya sudah
lompat pagar menjadi Gubernur
DKI. Dan sekarang sudah jadi
Gubernur DKI, belum selesai masa
jabatannya sudah mau lompat lagi
menjadi calon presiden..!!
Ckckckckck... Kok ya bisa, semudah
itu untuk mengkhianati amanah
yang telah diberikan oleh rakyat
kepadanya?
Untuk kasus yang di Solo ke Jakarta
waktu itu saya masih berusaha
untuk menerimanya. "Ah gak papa,
toh yang periode pertama sudah
selesai sampai akhir masa
jabatannya, dan yang periode yang
kedua pak wakil walikotanya sudah
paham dengan cara kerja walikota".
Itu pendapat saya dulu.
Lha, sekarang kok terjadi lagi. Belum
selesai masa jabatannya, baru juga
1.5 tahun menjabat sebagai
Gubernur DKI, lha kok sudah mau
lompat lagi menjadi calon presiden?
Sungguh tingkah yang dimata saya
tidak profesional.
Apakah tidak berpikir bahwa rakyat
Jakarta memilihnya dalam Pilgub DKI
itu tentu mereka memiliki harapan
yang besar bahwa dalam 5 tahun
kepemimpinannya bisa membawa
perubahan yang signifikan untuk
Jakarta. Pilgub yang di biayai
menggunakan uang rakyat dan
jumlahnya milyaran seakan-akan
tidak dihiraukan lagi.
Tidak ingat lagi bahwa Jokowi dipilih
oleh rakyat, dan rakyat memberikan
amanahnya untuk menjadi
pemimpinnya.
Semudah itukah mengkhianati
amanah yang sudah diberikan oleh
rakyat yang sudah banyak berharap
agar pemimpinnya bisa memberikan
yang terbaik kepada rakyatnya
hingga selesai akhir masa
jabatannya?
Hmmmm, silakan Anda pikirkan
sendiri, kalo saya yang pasti
gemas..!
4. Tidak Berjiwa Nasionalis
Coba Anda telusuri berita-berita
yang heboh mengenai monorel
jakarta dan bus transjakarta. Kira-
kira monorel yang dipakai serta bus
transjakarta yang dipesan itu hasil
produksi dari mana?
Jawabannya satu : Dari CHINA..!!
Ya, monorel jakarta dan bus
transjakarta yang digunakan itu
adalah produksi dari China. Ini yang
saya tidak habis pikir, kenapa kok
malah menggunakan produk dari
negara lain? Kok tidak menggunakan
hadil produksi dari karoseri lokal
saja?
Biasanya alasannya adalah itu
sudah sesuai dengan prosedur
tender. Produsen lokal ada yang
tidak memenuhi beberapa syaratnya,
dan harganyapun lebih mahal.
Sedangkan produk yang dari China
itu harganya lebih murah.
Hmmmmm.. Kalo menurut saya ini
alasan yang diada-adakan. Andai
pemimpin yang memiliki jiwa
nasionalis tentu akan lebih
mementingkan produksi anak bangsa
lebih dulu. Kenapa? Sebab uangnya
bisa berputar disini, uangnya
digunakan untuk membayar jam
kerja para buruh disini, uangnya
dipakai untuk membayar
kesejahteraan saudara sendiri di
negeri sendiri. Bukan membayar jam
kerja orang lain di negara orang
lain..!!
Ada juga berita yang saya baca
adalah produk dari China itu
harganya lebih murah 50 jutaan per
unitnya, kalo sekian ratus atau
sekian ribu yang dipesan,
harapannya bisa menghemat sekian
milyarrrr..!! Eh, tau-tau malah bus
yang didapat malah bus rekondisi
yang sudah karatan dan rusak..!!!
Bahkan dalam beberapa berita juga
saya temukan bahwa pemenang
tender bus transjakarta itu
kantornya saja susah ditemukan.
Sekalinya ditemukan, kantornya tidak
meyakinkan. Masa ada pemenang
tender yang nilainya ratusan milyar
kantornya cuma di ruko saja?
Ah entahlah yang jelas disini saya
tidak menemukan sisi nasionalisnya
Jokowi lagi seperti diwaktu dia mau
menggandeng Esemka, dimana
aroma jiwa nasionalisnya kental
terasa.
5. Bukan Contoh Pemimpin Yang
Gantleman
Masih teringat jelas ketika 'the
busway gate' rame jadi berita, baik
di media online atau media cetak.
Dalam kacamata saya, dengan
munculnya pemberitaan kasus 'the
busway gate' ini sangat jelas sekali
membuktikan bahwa Jokowi bukanlah
contoh pemimpin yang gantleman?
Pasti Anda akan bertanya, Apa
alasannya?
Oke. Skandal bus transjakarta yang
menggunakan dana milyaran itu
ternyata bermasalah. Budget
pembelian busway untuk setiap bus-
nya diatas angka 3 milyar. Sekali lagi
budgetnya adalah lebih dari 3
Milyar per bus. Bahkan dalam
sebuah berita ada yang menyebut
kalau Ahok menginginkan bisa
mendapatkan bus yang kualitasnya
selevel volvo atau mercedes. Namun
pada kenyataannya ternyata malah
mendapatkan bus dari China yang
rekondisi dan sudah berkarat pula.
Dalam kasus ini Kadis Perhubungan
DKI Jakarta, Udar Pristono,
menyatakan bahwa terjadinya
kerusakan (berkarat)-nya busway
yang diimpor dari China tersebut
karena terkena percikan air laut
pada saat proses ekspedisi ke
Indonesia. Jelas saja menurut saya
ini adalah sebuah alasan yang
sangat tidak masuk diakal. Mana
bisa bus yang saat pengiriman
tersebut berada di dalam kapal, tapi
masih juga terpercik air laut?
Hehehe...
Alih-alih langsung dengan
gantleman mengklarifikasi kejadian
sesungguhnya, dengan gantle minta
maaf atau mengambil tanggung
jawab anak buahnya itu, tetapi
malah mencari cari kesalahan dan
kambing hitam. Hingga akhirnya
berujung mutasi jabatan si Kadis
Perhubungan tersebut.
Bukannya seharusnya untuk proyek
yang nilainya milyarnya, terlebih
pengadaan barang, semua
spesifikasinya akan disebutkan
dengan jelas dan lengkap? Harusnya
antara Kadis dan Gubernur akan
tahu semuanya. Apabila ternyata
tertulisnya adalah produk yang
berkualitas selevel volvo atau
Mercedes namun akhirnya hanya
dibelikan bus China, sudah pasti ini
ada hal yang salah.
Nah, dimata saya pribadi langkah
memutasi Pak Kadis karena dianggap
bersalah dalam kasus ini tentu
bukan hal yang baik. Akan lebih
baik jika Jokowi langsung mengambil
alih tanggung jawab. Mengakui ada
kesalahan. Mengakui bahwa
(barangkali) ada yang gak bener
dalam proses pengadaannya, dan
minta maaf. Bukan malah mencari
kambing hitam..!!
6. Lebih Mementingkan Mandat atau
Kepentingan Partai
Dulu saya berpikir bahwa Jokowi
orangnya tegas dan sulit
diintervensi oleh partainya bila
berhubungan dengan pekerjaan.
Maksudnya akan lebih
mengutamakan pekerjaannya sebagai
Gubernur dulu daripada untuk
kepentingan partainya.
Namun ternyata dugaan saya itu
salah. Salahnya saja salah besar..!!!
Ternyata Jokowi lebih mementingkan
mandat adat kepentingan partai
daripada kepentingan rakyat yang
telah memberikannya amanah untuk
menjadi pemimpinnya.
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Jawa Barat dan diminta untuk
'jualan' di Jawa Barat ayuuuuukk..
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Jawa Tengah dan diminta untuk
'jualan' di Jawa Tengah
ayuuuuuukk...
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Sumatra Utara dan diminta untuk
'jualan' di Sumatra Utara
ayuuuuuuukk...
Saat jam kerja diajak ziarah ke
makam Bung Karno di Blitar,
ayuuuuuuuuukk...
Saat jam kerja sowan ke Gus Mus di
Rembang, okeeeeeeee....
Hmmmmm, hal-hal sepele seperti
ini yang akhirnya malah membuat
ilfil. Pemimpin yang seolah-olah
tidak ada wibawanya sama sekali.
Sedikit-sedikit 'sendhiko dhawuh'
sama perintah partai...
Padahal seharusnya sebisa mungkin
seorang pemimpin itu
mengedepankan kepentingan
rakyatnya terlebih dahulu yang
sudah memberikan amanah
kepadanya. Okelah gak perlu
munafik, partai juga perlu, tapi
mbok ya diatur waktunya dengan
baik dan elegan. Gunakanlah waktu
diluar jam kerja untuk mengurusi
partai. Atau gunakan hari libur
untuk kepentingan partai. Jadi ketika
melihat Jokowi dengan mudahnya
diatur-atur partai untuk kepentingan
partainya dulu, dari situ pula respek
saya ke Jokowi mulai pudar.
Hal ini bertolak belakang dengan
Ahok, Wakil Gubernurnya. Meskipun
sama-sama berangkat sebagai kader
partai dan berbeda partai, Ahok
lebih bisa mengedepankan
kepentingan rakyatnya dulu
dibanding partainya.
7. Berbohong Dengan Memainkan
Sandiwara Politik
Masih ingatkah Anda jauh-jauh hari
sebelum mandat pencalonan
presiden oleh Megawati dibacakan?
Setiap kali ditanya oleh wartawan
soal peluang Jokowi akan maju
sebagai calon presiden ada
beberapa jawaban yang selalu
diberikan.
"Copras Capres Copras Capres ......."
"Nggak Mikir... Nggak Mikir... Nggak
Mikir..."
"Tiap hari mikirin banjir, macet, PKL,
lha kok suruh mikir copras capres..."
"Jokowi itu komitmen..!"
Bahkan dalam kampanyenya dalam
pilgub dulu, "Jokowi itu komitmen,
tidak akan tergoda capres-capresan"
Sandiwara itu tersaji dengan apik
dan sempurna. Rakyat disajikan
sandiwara yang diperankan oleh
seseorang yang kelihatannya lugu
namun ternyata juga menyimpan
ambisi terpendam yang luar biasa.
Lengkap sudah.
Dengan komentarnya yang "Nggak
Mikir... Nggak Mikir... Nggak Mikir..."
itu rakyat, lebih khususnya rakyat
Jakarta, dibuat 'bingung'. Disatu
sisi, Jokowi ini memang bener-bener
nggak mikir menjadi calon presiden
ataukah saat ini masih belum mikir
tapi nanti tetep mau juga menjadi
calon presiden.
Selama Jokowi masih menjawab
"nggak mikir.. nggak mikir.." itu
setidaknya Jokowi mungkin masih
bermaksud 'ngedem-ngedemke'
atine rakyat Jakarta. Nggak
mungkinlah Jokowi meninggalkan
rakyat Jakarta yang sudah
memberinya amanah untuk menjadi
pemimpinnya..
Namun apa mau dikata, ternyata
sekuel demi sekuel sandiwara
politiknya itu terjawab sudah.
Ternyata jawaban "nggak mikir..
nggak mikir.." itu hanyalah isapan
jempol saja. Kenyataannya akhirnya
'takluk' dengan menerima atau mau
melaksanakan mandat Megawati
daripada melaksanakan mandat
rakyat yang memilihnya.
Poin ini tentu menjadi krusial.
Bukan menjadi contoh yang baik
apabila ternyata pemimpinnya
malah mengajarkan berbohong dan
memainkan sandiwara politik demi
ambisi partai ataupun ambisi
pribadi. Inilah salah satu poin yang
membuat saya menjadi kehilangan
respek kepada Jokowi.
8. Hanya Menjadi Wayang atau
Boneka Saja
Pada poin ini lebih ditekankan pada
ketegasan seorang pemimpin yang
wajib memiliki integritas dan bebas
dari intervensi kepentingan
seseorang atau kepentingan
kelompok/partai.
Di media sosial banyak sekali yang
menyoroti tentang hal ini, yaitu
apabila Jokowi terpilih menjadi
presiden mendatang dikhawatirkan
hanya akan menjadi simbol atau
boneka saja. Dimana yang menjadi
dalang atau 'presiden'
sesungguhnya adalah orang yang
memiliki kepentingan dibaliknya..!!
Salah satu hal yang masih saya
ingat adalah ketika rame-rame
pilgub DKI tempo hari itu. Katanya
Jokowi didanai oleh seorang
konglomerat. Milyaran rupiah
digelontorkan untuk mendanai
kampanye Jokowi. Dan singkat kata
Jokowi terpilih menjadi Gubernur.
Seiring berjalannya waktu, proyek
monorel Jakarta akhirnya akan
dilanjutkan lagi. Siapa yang
mendapatkan proyeknya itu? Anda
pasti tahu. Yang jelas Grup Bukaka-
nya Jusuf Kalla kalah dalam proyek
ini.
Mungkin bisa kita otak atik gathuk
lagi. Sebelum mandat pencalonan
presiden Megawati kepada Jokowi
dibacakan, Megawati masih belum
sepenuhnya ikhlas untuk
melepaskan peluang menjadi calon
presiden itu kepada Jokowi. Diluar
alasan memutus mata rantai trah
Soekarno di PDIP, dalam internal
PDIP menggadang-gadang akan
mencalonkan seorang jendral yang
akan menjadi calon presidennya.
Stop sampai disini dulu. Lalu,
beberapa hari sebelum pembacaan
mandat itu, Megawati menemui
puluhan pengusaha etnis China,
yang tentu saja dimintai untuk
peran sertanya demi kesuksesan
PDIP dalam pemilu tahun ini. Entah
kenapa, tidak berselang lama
mandat itu dibacakan oleh
Megawati. Dan sesaat setelah
pembacaan mandat, Jokowipun
menerima dan siap melaksanakan
mandat tersebut.
Hebatnya, begitu pembacaan
mandat dan Jokowi menerima
mandat, tiba-tiba direspon positif
oleh pasar. Indeks IHSG naik dan
nilai tukar dollar juga naik.
Terbacakah oleh Anda benang
merahnya itu? Wallahu 'alam..
Yang jelas saya takut andaikata
Jokowi menjadi presiden dan
akhirnya hanya menjadi presiden
boneka saja.
Kalo saya, daripada jadi presiden
boneka, mending jualan boneka aja.
Ini lagi laris-larisnya jualan Boneka
Teddy Bear dan Boneka Pinokio...
9. Berpolitik Balas Budi
Banyak pemberitaan yang membahas
tentang hal yang satu ini, yaitu
secara tidak langsung Jokowi
menjalankan politik balas budi. Dan
yang paling sering dihubung-
hubungkan adalah mengenai
pembangunan monorel Jakarta.
Saat maju pemilihan DKI-1, Jokowi
seringkali dihubung-hubungkan
dengan nama salah satu
konglomerat, yang turut membantu
kesuksesan Jokowi maju dan
memenangkan pertarungan DKI-1.
Milyaran rupiah digelontorkan oleh
si konglomerat itu agar Jokowi bisa
terpilih menjadi DKI-1.
Namanya mengeluarkan duit, apalagi
dalam jumlah milyaran, tentu saja
tidak bisa gratis begitu saja. Masak
udah membantu puluhan milyar,
trus duitnya gak pengen balik lagi?
Halpir mustahil...
Dan begitu kursi DKI-1 sudah
ditangan, ternyata dugaan itu
mendekati kebenarannya. Proyek
Jakarta Monorel dinyatakan oleh
Jokowi untuk dilanjutkan lagi, dan
yang memenangkan proyek itu Anda
pasti juga bisa menebaknya.
Yang jelas Pak Jusuf Kala dengan
Grup Bukakanya kalah, dan tiang-
tiang pancang yang sudah dibangun
oleh Adhi Karya yang seharusnya
dibayar ganti ruginya oleh
pemenang tender Jakarta Monorel
itu nasibnya sampai sekarang masih
terkatung-katung.
Nah ini yang bisa menjadi sebuah
preseden buruk, dimana bila ada
pimpinan melakukan politik balas
budi, atau politik transaksional
semuanya akan menjadi kurang baik.
Dan memang seharusnya calon
presiden atau calon pemimpin yang
biasa melakukan politik balas budi
seperti ini tidak bisa menjadi
contoh yang baik. Selagi ada calon
pemimpin atau calon presiden yang
berani menolak melakukan politik
balas budi, maka lebih baik memilih
pemimpin yang tegas seperti itu.
10. Melakukan Pencitraan Yang
Menguntungkan Saja
Pada poin ini sebenarnya saya juga
ingin tersenyum dulu, kenapa?
Sebab menurut saya pribadi, Jokowi
cerdas dan cerdik memainkan
pencitraan yang menguntungkan
saja, pencitraan yang bisa membuat
namanya jadi harum.
Ada dua hal yang ingin saya
bandingkan disini, yaitu saat Jokowi
mendapatkan hadiah gitar dari
salah satu personel grup band
ternama dunia dan satunya lagi
ketika rame-rame ada pemberitaan
busway yang karatan.
Dari dua kasus tersebut, Jokowi tahu
persis mana yang bisa dimainkan
agar namanya jadi lebih harum dan
mana yang malah menjadi bumerang
Begitu menerima hadiah gitar, tidak
pakai lama, saat itu Jokowi langsung
berinisiatif untuk memberikan gitar
tersebut ke KPK. Jokowi takut nanti
dianggap melanggar aturan
mengenai pejabat yang menerima
gratifikasi. Dan ternyata benar,
pemberian gitar tersebut oleh KPK
dianggap sebagai gratifikasi dan
oleh karenanya gitar tersebut
diambil dan menjadi milik negara.
Pada kasus ini jelas, nama Jokowi
begitu harum namanya kan? Orang
akan berpikir, "Wah, seorang
pemimpin diberi hadiah gitar oleh
sebuah grup band terkenal tapi
malah diserahkan ke KPK, agar tidak
dianggap KKN."
Seolah-olah akan banyak yang
berpikir, "Oh, Jokowi hebat, tidak
bisa 'disuap-suap', disuap aja gak
mempan, pasti dia juga gak
mungkin korupsi" Itu salah satu hal
yang muncul dalam benak pikiran
saya ketika mencermati kejadian
pemberian gitar yang akhirnya
diberikan kepada negara itu.
Stop sampai disini dulu.
Sekarang dibandingkan dengan
adanya masalah yang kedua. Ketika
terjadi ramerame berita busway yang
rusak dan karatan, padahal baru
saja dibeli, kenapa Jokowi tidak
segera melakukan tindakan yang
sama? Segera laporkan ke KPK dan
biar secepatnya diusut tuntas dan
jelas masalahnya..!!
Apakah itu sebuah kebetulan???
Yang jelas dimata saya pribadi,
Jokowi terlalu cerdik, memilih kasus
mana yang bisa membuat citranya
positif dan harum serta kasus mana
yang nanti malah menjadi
bumerang.
Itu setidaknya menurut kacamata
saya. Entah lagi jika Anda punya
pemikiran yang lain.
11. Tidak Memiliki Visi Misi Yang
Jelas Terarah dan Terukur
Namanya sudah diajukan menjadi
calon presiden, sudah barang tentu
sudah memiliki grand design,
bagaimana visi misi yang akan dia
inginkan ketika nanti benar-benar
terpilih menjadi presiden.
Namun saat ditanyai mengenai visi-
misi ini tidak secara jelas Jokowi
menjawabnya. Malah memberikan
jawaban yang aneh, yaitu dia masih
fokus untuk mengurusi pemilu
legislatif lebih dulu. Belum terlalu
memilirkan pemilu presiden dan
wakil presiden..!!!
Wuaaaaaa...!!! Pemimpin macam
mana ini, sudah mau maju menjadi
calon presiden tapi ketika ditanyain
mengenai visi misi malah tidak bisa
menjawab visi misinya...
Setidaknya, seorang calon presiden
itu akan memiliki gambaran apa-apa
saja yang akan dilakukannya nanti.
Misalnya saja :
Dalam birokrasi akan melakukan
apa.....
Dibidang ketahanan pangan akan
melakukan apa.....
Dibidang ketahanan energi akan
melakukan apa....
Dibidang kebudayaan akan
melakukan apa.....
Dibidang pendidikan akan
melakukan apa....
Dibidang kesehatan akan melakukan
apa....
Dan seterusnya...
Atau jangan-jangan, visi misi yang
jadi titipan 'beking'-nya atau
'dalang'-nya belum juga disiapkan?
Ah mbuhlah....
12. Belum Memiliki Prestasi Kerja
Mengatasi Problem-Problem Negara
Para pembela Jokowi yang setuju
Jokowi maju sebagai calon presiden
biasanya adalah : "Jokowi akan lebih
mudah membereskan masalah
Jakarta kalau dia menjadi presiden,
sebab bisa dengan cepat mengambil
keputusan". Atau kadang ada juga
dengan argumen : "Kalo Jokowi jadi
presiden, yang untung bukan cuman
Jakarta, tapi seluruh rakyat
Indonesia..!"
Mendengar argumen seperti itu
kadang saya cuman tertawa dalam
hati, entah bagaimana bisa
menggunakan logika seperti itu.
Sedangkan saya justru berpikir
terbalik, "Ngurusin Jakarta yang
luasnya masih seper berapanya
bangsa ini saja masih belum terlihat
hasilnya, kok mau loncat-loncat
pekerjaannya mengerjakan tugas
yang lainnya..!!!"
Jadi presiden nanti bukan saja
menyelesaikan problematika Jakarta
yang ditinggalkan saja, tetapi juga
mengurusi Aceh, Medan, Palembang,
Semarang, Surabaya, Balikpapan,
MAkassar, Ambon, hingga Papua.
Semuanya memiliki problematika
sendiri-sendiri dan berbeda-beda
cara penyelesaiannya.
Kalo prestasinya hanya sekedar
seputar mengatur/merapikan PKL,
bikin kartu sehat, bikin kartu pintar,
ngusir topeng monyet dan itu
langsung di copy paste ke daerah-
daerah lain, itu bukan sebuah
prestasi yang membanggakan.
Mengapa? Mengurus negara itu jauh
lebih kompleks dari sekedar hal-hal
itu. Dan menurut saya belum ada
prestasi yang hebat yang bisa
dijadikan bukti nyata untuk
meyakinkan saya.
Contoh saja..
Mengatasi masalah ketahanan
energi..
Membangun infrastruktur (bandara,
pelabuhan, jalan tol, dll)..
Mengurusi masalah ketahanan
pangan...
Mengurusi mengenai pertanian/
peternakan...
Mengurusi kesehatan masyarakat...
Mengurusi ketahanan negara....
Dan lain sebagainya, masih banyak
lagi...
Dimata saja, belum ada prestasi-
prestasi yang ditorehkan oleh Jokowi
yang bisa 'dipamerkan' menghandle
problem-problem negara yang jauh
lebih besar.
Kita sebagai calon pemilih tentu saja
serasa berjudi andaikata
menyerahkan amanat kepada
seorang pemimpin yang ternyata
belum teruji kapasitasnya mengatasi
atau menyelesaikan problematika
negara yang beraneka ragam itu.
13. Sebab Dicalonkan Oleh PDIP
Untuk alasan yang terakhir ini saya
agak subyektif. Ya karena ini tulisan
hasil penglihatan dan analisa saya,
maka saya tetap mencantumkannya.
Alasan saya yang ke-13 adalah, saya
kurang setuju Jokowi menjadi calon
presiden sebab dia dicalonkan
melalui PDIP.
Mengapa saya kurang setuju Jokowi
dicalonkan sebagai calon presiden
dari PDIP? Sebab, dalam banyak
pemberitaan banyak disebutkan
rekam jejak kinerja partai ini dimasa
lalu cukup memprihatinkan. Bahkan
dalam minggu-minggu terakhir ini di
media sosial dengan
hashtag # MelawanLupa, banyak
dituliskan rekam jejak kinerja partai
ini dimasa lalu.
Coba saya tuliskan #MelawanLupa
yang ramai dibahas di media sosial
itu
Ibuku sayang..
1. Dulu kau jual satelit negara kami
ke Singapura melalui jualan Indosat
dengan murah, sehingga kita
dimata-matai negara tetangga.
#MelawanLupa
2. Dulu kau jual aset-aset kami yang
dikelola BPPN dengan murah (hanya
30% nilainya) ke asing.
#MelawanLupa
3. Dulu kau jual kapal tanker VLCC
milik Pertamina lalu Pertamina kau
paksa sewa kapal VLCC dengan
mahal. #MelawanLupa
4. Dulu kau jual gas Tangguh
dengan murah (banting harga) ke
China (hanya $3 per mmbtu), lalu
sekarang kau teriak2 selamatkan
Migas. #MelawanLupa
5. Dulu kau buat UU Outsourching
yg merugikan kaum buruh wong
cilik, sekarang kau koar2 atas nama
buruh dan wong cilik.
#MelawanLupa
6. Dulu kau berikan SP3 dan SKL
untuk bandit2 BLBI pencuri uang
rakyat. #MelawanLupa
7. Sekarang, kau ngomong lagi soal
nasionalisme, setelah kader-kader
mu terbukti paling banyak yg
tersangkut korupsi. #MelawanLupa
8. Dan sekarang, untuk mengkatrol
suara dan citramu yang terpuruk,
kini kau mengumpankan si "Kotak2".
#MelawanLupa
9. Dulu kau berhutang triliunan
rupiah hanya utk menyelamatkan
bandit2, sekarang kau juga
didukung bandit2 utk naekkan
bonekamu. #MelawanLupa
10. Dulu kau bilang kau dikhianati
SBY, skrg kau khianati Prabowo.
#MelawanLupa
11. Dulu kau ngambek krn tdk
menang lawan SBY, skrg kau jumawa
dan sombong meski belum menang.
#MelawanLupa
12. Kau lupakan korban 27 juli yg
tdk lain kader2 mu, setelah itu kau
berkoalisi bersama org yg menjadi
salah satu aktornya dan kini kau
ungkit2 lagi dosa org tersebut.
#MelawanLupa
13. Dulu kau pecat pa Kwik yg
mencoba membela dan
mempertahankan aset negara.
#MelawanLupa
14. Dulu kau hanya bisa diam dan
membiarkan negeri ini dlm mode
autopilot. #MelawanLupa
Sungguh woooooooww sekali, dan
saya serasa diingatkan lagi untuk
#MelawanLupa itu....
Lalu apakah sesungguhnya apa yang
menjadi kriteria saya andaikata
Jokowi layak dicalonkan menjadi
presiden?
Saya Setuju Jokowi Jadi Presiden
Kalau......
1. Menyelesaikan amanah dan janji-
janjinya untuk rakyat Jakarta hingga
selesai masa jabatannya...
2. Dicalonkan oleh partai yang
memiliki track record yang baik (atau
yang paling baik diantara yang
buruk)..
3. Bebas intervensi dan bebas
politik balas budi..
4. Memihak kepentingan nasional
(nasionalis)..
5. Memiliki visi misi pembangunan
kedepan yang dahsyat namun
realistis untuk diwujudkan..
6. Memiliki track record prestasi
menyelesaikan problematika dalam
sekup yang lebih besar..
7. Tidak mementingkan pencitraan,
tetapi mementingkan prestasi dan
kerja nyata..
8. Tidak mudah disetir oleh
kepentingan partai atau kelompok
tertentu..
9. Menjadi pemimpin yang
gantleman dan berani mengambil
tanggung jawab tanpa mencari
kambing hitam..
10. Tidak menjadi pemimpin
boneka...
Nah, sampai disini semoga Anda
bisa memahami dan mengerti
berbagai macam pertimbangan yang
akhirnya membuat saya yang dulu
'jatuh cinta' dengan Jokowi akhirnya
malah berbalik arah menjadi tidak
respek dengan beliau. Bukan karena
benci, sama sekali tidak. Hanya
merasa kasihan saja andaikata
ternyata Jokowi itu hanya
dimanfaatkan untuk kepentingan
orang lain atau pihak lain yang ingin
mengambil keuntungan dibalik
pencalonan Jokowi tersebut.
Bahkan sayapun juga masih
berharap, andaikata Jokowi
memenuhi 10 kriteria yang saya
dituliskan diatas, saya mau untuk
mendukung Jokowi menjadi
presiden..
Semoga tulisan ini bisa menjadi
bahan pertimbangan Anda. Tidak
ada paksaan dari saya untuk Anda
tidak memilih Jokowi, sama sekali
tidak. Anda punya jagoan sendiri ya
monggo, begitu pula saya.. Dan
Anda juga tidak harus mengikuti
dan setuju dengan pendapat yang
saya kemukakan disini.
Bila Anda memiliki pendapat
sendiri, silakan berpendapat, silakan
menulisnya, dan dengan senang hati
nanti saya juga akan ikut
membacanya..
Salam Pemilu Cerdas, Pemilu
Pintar...!!— in Jakarta. Sumber dari
Fb (Arie Billy) juga dishare di Group
Relawan Jokowi Presiden untuk
'jualan' di Jawa Barat ayuuuuukk..
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Jawa Tengah dan diminta untuk
'jualan' di Jawa Tengah
ayuuuuuukk...
Rame-rame ada pemilihan gubernur
di Sumatra Utara dan diminta untuk
'jualan' di Sumatra Utara
ayuuuuuuukk...
Saat jam kerja diajak ziarah ke
makam Bung Karno di Blitar,
ayuuuuuuuuukk...
Saat jam kerja sowan ke Gus Mus di
Rembang, okeeeeeeee....
Hmmmmm, hal-hal sepele seperti
ini yang akhirnya malah membuat
ilfil. Pemimpin yang seolah-olah
tidak ada wibawanya sama sekali.
Sedikit-sedikit 'sendhiko dhawuh'
sama perintah partai...
Padahal seharusnya sebisa mungkin
seorang pemimpin itu
mengedepankan kepentingan
rakyatnya terlebih dahulu yang
sudah memberikan amanah
kepadanya. Okelah gak perlu
munafik, partai juga perlu, tapi
mbok ya diatur waktunya dengan
baik dan elegan. Gunakanlah waktu
diluar jam kerja untuk mengurusi
partai. Atau gunakan hari libur
untuk kepentingan partai. Jadi ketika
melihat Jokowi dengan mudahnya
diatur-atur partai untuk kepentingan
partainya dulu, dari situ pula respek
saya ke Jokowi mulai pudar.
Hal ini bertolak belakang dengan
Ahok, Wakil Gubernurnya. Meskipun
sama-sama berangkat sebagai kader
partai dan berbeda partai, Ahok
lebih bisa mengedepankan
kepentingan rakyatnya dulu
dibanding partainya.
7. Berbohong Dengan Memainkan
Sandiwara Politik
Masih ingatkah Anda jauh-jauh hari
sebelum mandat pencalonan
presiden oleh Megawati dibacakan?
Setiap kali ditanya oleh wartawan
soal peluang Jokowi akan maju
sebagai calon presiden ada
beberapa jawaban yang selalu
diberikan.
"Copras Capres Copras Capres ......."
"Nggak Mikir... Nggak Mikir... Nggak
Mikir..."
"Tiap hari mikirin banjir, macet, PKL,
lha kok suruh mikir copras capres..."
"Jokowi itu komitmen..!"
Bahkan dalam kampanyenya dalam
pilgub dulu, "Jokowi itu komitmen,
tidak akan tergoda capres-capresan"
Sandiwara itu tersaji dengan apik
dan sempurna. Rakyat disajikan
sandiwara yang diperankan oleh
seseorang yang kelihatannya lugu
namun ternyata juga menyimpan
ambisi terpendam yang luar biasa.
Lengkap sudah.
Dengan komentarnya yang "Nggak
Mikir... Nggak Mikir... Nggak Mikir..."
itu rakyat, lebih khususnya rakyat
Jakarta, dibuat 'bingung'. Disatu
sisi, Jokowi ini memang bener-bener
nggak mikir menjadi calon presiden
ataukah saat ini masih belum mikir
tapi nanti tetep mau juga menjadi
calon presiden.
Selama Jokowi masih menjawab
"nggak mikir.. nggak mikir.." itu
setidaknya Jokowi mungkin masih
bermaksud 'ngedem-ngedemke'
atine rakyat Jakarta. Nggak
mungkinlah Jokowi meninggalkan
rakyat Jakarta yang sudah
memberinya amanah untuk menjadi
pemimpinnya..
Namun apa mau dikata, ternyata
sekuel demi sekuel sandiwara
politiknya itu terjawab sudah.
Ternyata jawaban "nggak mikir..
nggak mikir.." itu hanyalah isapan
jempol saja. Kenyataannya akhirnya
'takluk' dengan menerima atau mau
melaksanakan mandat Megawati
daripada melaksanakan mandat
rakyat yang memilihnya.
Poin ini tentu menjadi krusial.
Bukan menjadi contoh yang baik
apabila ternyata pemimpinnya
malah mengajarkan berbohong dan
memainkan sandiwara politik demi
ambisi partai ataupun ambisi
pribadi. Inilah salah satu poin yang
membuat saya menjadi kehilangan
respek kepada Jokowi.
8. Hanya Menjadi Wayang atau
Boneka Saja
Pada poin ini lebih ditekankan pada
ketegasan seorang pemimpin yang
wajib memiliki integritas dan bebas
dari intervensi kepentingan
seseorang atau kepentingan
kelompok/partai.
Di media sosial banyak sekali yang
menyoroti tentang hal ini, yaitu
apabila Jokowi terpilih menjadi
presiden mendatang dikhawatirkan
hanya akan menjadi simbol atau
boneka saja. Dimana yang menjadi
dalang atau 'presiden'
sesungguhnya adalah orang yang
memiliki kepentingan dibaliknya..!!
Salah satu hal yang masih saya
ingat adalah ketika rame-rame
pilgub DKI tempo hari itu. Katanya
Jokowi didanai oleh seorang
konglomerat. Milyaran rupiah
digelontorkan untuk mendanai
kampanye Jokowi. Dan singkat kata
Jokowi terpilih menjadi Gubernur.
Seiring berjalannya waktu, proyek
monorel Jakarta akhirnya akan
dilanjutkan lagi. Siapa yang
mendapatkan proyeknya itu? Anda
pasti tahu. Yang jelas Grup Bukaka-
nya Jusuf Kalla kalah dalam proyek
ini.
Mungkin bisa kita otak atik gathuk
lagi. Sebelum mandat pencalonan
presiden Megawati kepada Jokowi
dibacakan, Megawati masih belum
sepenuhnya ikhlas untuk
melepaskan peluang menjadi calon
presiden itu kepada Jokowi. Diluar
alasan memutus mata rantai trah
Soekarno di PDIP, dalam internal
PDIP menggadang-gadang akan
mencalonkan seorang jendral yang
akan menjadi calon presidennya.
Stop sampai disini dulu. Lalu,
beberapa hari sebelum pembacaan
mandat itu, Megawati menemui
puluhan pengusaha etnis China,
yang tentu saja dimintai untuk
peran sertanya demi kesuksesan
PDIP dalam pemilu tahun ini. Entah
kenapa, tidak berselang lama
mandat itu dibacakan oleh
Megawati. Dan sesaat setelah
pembacaan mandat, Jokowipun
menerima dan siap melaksanakan
mandat tersebut.
Hebatnya, begitu pembacaan
mandat dan Jokowi menerima
mandat, tiba-tiba direspon positif
oleh pasar. Indeks IHSG naik dan
nilai tukar dollar juga naik.
Terbacakah oleh Anda benang
merahnya itu? Wallahu 'alam..
Yang jelas saya takut andaikata
Jokowi menjadi presiden dan
akhirnya hanya menjadi presiden
boneka saja.
Kalo saya, daripada jadi presiden
boneka, mending jualan boneka aja.
Ini lagi laris-larisnya jualan Boneka
Teddy Bear dan Boneka Pinokio...
9. Berpolitik Balas Budi
Banyak pemberitaan yang membahas
tentang hal yang satu ini, yaitu
secara tidak langsung Jokowi
menjalankan politik balas budi. Dan
yang paling sering dihubung-
hubungkan adalah mengenai
pembangunan monorel Jakarta.
Saat maju pemilihan DKI-1, Jokowi
seringkali dihubung-hubungkan
dengan nama salah satu
konglomerat, yang turut membantu
kesuksesan Jokowi maju dan
memenangkan pertarungan DKI-1.
Milyaran rupiah digelontorkan oleh
si konglomerat itu agar Jokowi bisa
terpilih menjadi DKI-1.
Namanya mengeluarkan duit, apalagi
dalam jumlah milyaran, tentu saja
tidak bisa gratis begitu saja. Masak
udah membantu puluhan milyar,
trus duitnya gak pengen balik lagi?
Halpir mustahil...
Dan begitu kursi DKI-1 sudah
ditangan, ternyata dugaan itu
mendekati kebenarannya. Proyek
Jakarta Monorel dinyatakan oleh
Jokowi untuk dilanjutkan lagi, dan
yang memenangkan proyek itu Anda
pasti juga bisa menebaknya.
Yang jelas Pak Jusuf Kala dengan
Grup Bukakanya kalah, dan tiang-
tiang pancang yang sudah dibangun
oleh Adhi Karya yang seharusnya
dibayar ganti ruginya oleh
pemenang tender Jakarta Monorel
itu nasibnya sampai sekarang masih
terkatung-katung.
Nah ini yang bisa menjadi sebuah
preseden buruk, dimana bila ada
pimpinan melakukan politik balas
budi, atau politik transaksional
semuanya akan menjadi kurang baik.
Dan memang seharusnya calon
presiden atau calon pemimpin yang
biasa melakukan politik balas budi
seperti ini tidak bisa menjadi
contoh yang baik. Selagi ada calon
pemimpin atau calon presiden yang
berani menolak melakukan politik
balas budi, maka lebih baik memilih
pemimpin yang tegas seperti itu.
10. Melakukan Pencitraan Yang
Menguntungkan Saja
Pada poin ini sebenarnya saya juga
ingin tersenyum dulu, kenapa?
Sebab menurut saya pribadi, Jokowi
cerdas dan cerdik memainkan
pencitraan yang menguntungkan
saja, pencitraan yang bisa membuat
namanya jadi harum.
Ada dua hal yang ingin saya
bandingkan disini, yaitu saat Jokowi
mendapatkan hadiah gitar dari
salah satu personel grup band
ternama dunia dan satunya lagi
ketika rame-rame ada pemberitaan
busway yang karatan.
Dari dua kasus tersebut, Jokowi tahu
persis mana yang bisa dimainkan
agar namanya jadi lebih harum dan
mana yang malah menjadi bumerang
Begitu menerima hadiah gitar, tidak
pakai lama, saat itu Jokowi langsung
berinisiatif untuk memberikan gitar
tersebut ke KPK. Jokowi takut nanti
dianggap melanggar aturan
mengenai pejabat yang menerima
gratifikasi. Dan ternyata benar,
pemberian gitar tersebut oleh KPK
dianggap sebagai gratifikasi dan
oleh karenanya gitar tersebut
diambil dan menjadi milik negara.
Pada kasus ini jelas, nama Jokowi
begitu harum namanya kan? Orang
akan berpikir, "Wah, seorang
pemimpin diberi hadiah gitar oleh
sebuah grup band terkenal tapi
malah diserahkan ke KPK, agar tidak
dianggap KKN."
Seolah-olah akan banyak yang
berpikir, "Oh, Jokowi hebat, tidak
bisa 'disuap-suap', disuap aja gak
mempan, pasti dia juga gak
mungkin korupsi" Itu salah satu hal
yang muncul dalam benak pikiran
saya ketika mencermati kejadian
pemberian gitar yang akhirnya
diberikan kepada negara itu.
Stop sampai disini dulu.
Sekarang dibandingkan dengan
adanya masalah yang kedua. Ketika
terjadi ramerame berita busway yang
rusak dan karatan, padahal baru
saja dibeli, kenapa Jokowi tidak
segera melakukan tindakan yang
sama? Segera laporkan ke KPK dan
biar secepatnya diusut tuntas dan
jelas masalahnya..!!
Apakah itu sebuah kebetulan???
Yang jelas dimata saya pribadi,
Jokowi terlalu cerdik, memilih kasus
mana yang bisa membuat citranya
positif dan harum serta kasus mana
yang nanti malah menjadi
bumerang.
Itu setidaknya menurut kacamata
saya. Entah lagi jika Anda punya
pemikiran yang lain.
11. Tidak Memiliki Visi Misi Yang
Jelas Terarah dan Terukur
Namanya sudah diajukan menjadi
calon presiden, sudah barang tentu
sudah memiliki grand design,
bagaimana visi misi yang akan dia
inginkan ketika nanti benar-benar
terpilih menjadi presiden.
Namun saat ditanyai mengenai visi-
misi ini tidak secara jelas Jokowi
menjawabnya. Malah memberikan
jawaban yang aneh, yaitu dia masih
fokus untuk mengurusi pemilu
legislatif lebih dulu. Belum terlalu
memilirkan pemilu presiden dan
wakil presiden..!!!
Wuaaaaaa...!!! Pemimpin macam
mana ini, sudah mau maju menjadi
calon presiden tapi ketika ditanyain
mengenai visi misi malah tidak bisa
menjawab visi misinya...
Setidaknya, seorang calon presiden
itu akan memiliki gambaran apa-apa
saja yang akan dilakukannya nanti.
Misalnya saja :
Dalam birokrasi akan melakukan
apa.....
Dibidang ketahanan pangan akan
melakukan apa.....
Dibidang ketahanan energi akan
melakukan apa....
Dibidang kebudayaan akan
melakukan apa.....
Dibidang pendidikan akan
melakukan apa....
Dibidang kesehatan akan melakukan
apa....
Dan seterusnya...
Atau jangan-jangan, visi misi yang
jadi titipan 'beking'-nya atau
'dalang'-nya belum juga disiapkan?
Ah mbuhlah....
12. Belum Memiliki Prestasi Kerja
Mengatasi Problem-Problem Negara
Para pembela Jokowi yang setuju
Jokowi maju sebagai calon presiden
biasanya adalah : "Jokowi akan lebih
mudah membereskan masalah
Jakarta kalau dia menjadi presiden,
sebab bisa dengan cepat mengambil
keputusan". Atau kadang ada juga
dengan argumen : "Kalo Jokowi jadi
presiden, yang untung bukan cuman
Jakarta, tapi seluruh rakyat
Indonesia..!"
Mendengar argumen seperti itu
kadang saya cuman tertawa dalam
hati, entah bagaimana bisa
menggunakan logika seperti itu.
Sedangkan saya justru berpikir
terbalik, "Ngurusin Jakarta yang
luasnya masih seper berapanya
bangsa ini saja masih belum terlihat
hasilnya, kok mau loncat-loncat
pekerjaannya mengerjakan tugas
yang lainnya..!!!"
Jadi presiden nanti bukan saja
menyelesaikan problematika Jakarta
yang ditinggalkan saja, tetapi juga
mengurusi Aceh, Medan, Palembang,
Semarang, Surabaya, Balikpapan,
MAkassar, Ambon, hingga Papua.
Semuanya memiliki problematika
sendiri-sendiri dan berbeda-beda
cara penyelesaiannya.
Kalo prestasinya hanya sekedar
seputar mengatur/merapikan PKL,
bikin kartu sehat, bikin kartu pintar,
ngusir topeng monyet dan itu
langsung di copy paste ke daerah-
daerah lain, itu bukan sebuah
prestasi yang membanggakan.
Mengapa? Mengurus negara itu jauh
lebih kompleks dari sekedar hal-hal
itu. Dan menurut saya belum ada
prestasi yang hebat yang bisa
dijadikan bukti nyata untuk
meyakinkan saya.
Contoh saja..
Mengatasi masalah ketahanan
energi..
Membangun infrastruktur (bandara,
pelabuhan, jalan tol, dll)..
Mengurusi masalah ketahanan
pangan...
Mengurusi mengenai pertanian/
peternakan...
Mengurusi kesehatan masyarakat...
Mengurusi ketahanan negara....
Dan lain sebagainya, masih banyak
lagi...
Dimata saja, belum ada prestasi-
prestasi yang ditorehkan oleh Jokowi
yang bisa 'dipamerkan' menghandle
problem-problem negara yang jauh
lebih besar.
Kita sebagai calon pemilih tentu saja
serasa berjudi andaikata
menyerahkan amanat kepada
seorang pemimpin yang ternyata
belum teruji kapasitasnya mengatasi
atau menyelesaikan problematika
negara yang beraneka ragam itu.
13. Sebab Dicalonkan Oleh PDIP
Untuk alasan yang terakhir ini saya
agak subyektif. Ya karena ini tulisan
hasil penglihatan dan analisa saya,
maka saya tetap mencantumkannya.
Alasan saya yang ke-13 adalah, saya
kurang setuju Jokowi menjadi calon
presiden sebab dia dicalonkan
melalui PDIP.
Mengapa saya kurang setuju Jokowi
dicalonkan sebagai calon presiden
dari PDIP? Sebab, dalam banyak
pemberitaan banyak disebutkan
rekam jejak kinerja partai ini dimasa
lalu cukup memprihatinkan. Bahkan
dalam minggu-minggu terakhir ini di
media sosial dengan hashtag
#MelawanLupa, banyak dituliskan
rekam jejak kinerja partai ini dimasa
lalu.
Coba saya tuliskan #MelawanLupa
yang ramai dibahas di media sosial
itu
Ibuku sayang..
1. Dulu kau jual satelit negara kami
ke Singapura melalui jualan Indosat
dengan murah, sehingga kita
dimata-matai negara tetangga.
#MelawanLupa
2. Dulu kau jual aset-aset kami yang
dikelola BPPN dengan murah (hanya
30% nilainya) ke asing.
#MelawanLupa
3. Dulu kau jual kapal tanker VLCC
milik Pertamina lalu Pertamina kau
paksa sewa kapal VLCC dengan
mahal. #MelawanLupa
4. Dulu kau jual gas Tangguh
dengan murah (banting harga) ke
China (hanya $3 per mmbtu), lalu
sekarang kau teriak2 selamatkan
Migas. #MelawanLupa
5. Dulu kau buat UU Outsourching
yg merugikan kaum buruh wong
cilik, sekarang kau koar2 atas nama
buruh dan wong cilik.
#MelawanLupa
6. Dulu kau berikan SP3 dan SKL
untuk bandit2 BLBI pencuri uang
rakyat. #MelawanLupa
7. Sekarang, kau ngomong lagi soal
nasionalisme, setelah kader-kader
mu terbukti paling banyak yg
tersangkut korupsi. #MelawanLupa
8. Dan sekarang, untuk mengkatrol
suara dan citramu yang terpuruk,
kini kau mengumpankan si "Kotak2".
#MelawanLupa
9. Dulu kau berhutang triliunan
rupiah hanya utk menyelamatkan
bandit2, sekarang kau juga
didukung bandit2 utk naekkan
bonekamu. #MelawanLupa
10. Dulu kau bilang kau dikhianati
SBY, skrg kau khianati Prabowo.
#MelawanLupa
11. Dulu kau ngambek krn tdk
menang lawan SBY, skrg kau jumawa
dan sombong meski belum menang.
#MelawanLupa
12. Kau lupakan korban 27 juli yg
tdk lain kader2 mu, setelah itu kau
berkoalisi bersama org yg menjadi
salah satu aktornya dan kini kau
ungkit2 lagi dosa org tersebut.
#MelawanLupa
13. Dulu kau pecat pa Kwik yg
mencoba membela dan
mempertahankan aset negara.
#MelawanLupa
14. Dulu kau hanya bisa diam dan
membiarkan negeri ini dlm mode
autopilot. #MelawanLupa
Sungguh woooooooww sekali, dan
saya serasa diingatkan lagi untuk
#MelawanLupa itu....
Lalu apakah sesungguhnya apa yang
menjadi kriteria saya andaikata
Jokowi layak dicalonkan menjadi
presiden?
Saya Setuju Jokowi Jadi Presiden
Kalau......
1. Menyelesaikan amanah dan janji-
janjinya untuk rakyat Jakarta hingga
selesai masa jabatannya...
2. Dicalonkan oleh partai yang
memiliki track record yang baik (atau
yang paling baik diantara yang
buruk)..
3. Bebas intervensi dan bebas
politik balas budi..
4. Memihak kepentingan nasional
(nasionalis)..
5. Memiliki visi misi pembangunan
kedepan yang dahsyat namun
realistis untuk diwujudkan..
6. Memiliki track record prestasi
menyelesaikan problematika dalam
sekup yang lebih besar..
7. Tidak mementingkan pencitraan,
tetapi mementingkan prestasi dan
kerja nyata..
8. Tidak mudah disetir oleh
kepentingan partai atau kelompok
tertentu..
9. Menjadi pemimpin yang
gantleman dan berani mengambil
tanggung jawab tanpa mencari
kambing hitam..
10. Tidak menjadi pemimpin
boneka...
Nah, sampai disini semoga Anda
bisa memahami dan mengerti
berbagai macam pertimbangan yang
akhirnya membuat saya yang dulu
'jatuh cinta' dengan Jokowi akhirnya
malah berbalik arah menjadi tidak
respek dengan beliau. Bukan karena
benci, sama sekali tidak. Hanya
merasa kasihan saja andaikata
ternyata Jokowi itu hanya
dimanfaatkan untuk kepentingan
orang lain atau pihak lain yang ingin
mengambil keuntungan dibalik
pencalonan Jokowi tersebut.
Bahkan sayapun juga masih
berharap, andaikata Jokowi
memenuhi 10 kriteria yang saya
dituliskan diatas, saya mau untuk
mendukung Jokowi menjadi
presiden..
Semoga tulisan ini bisa menjadi
bahan pertimbangan Anda. Tidak
ada paksaan dari saya untuk Anda
tidak memilih Jokowi, sama sekali
tidak. Anda punya jagoan sendiri ya
monggo, begitu pula saya.. Dan
Anda juga tidak harus mengikuti
dan setuju dengan pendapat yang
saya kemukakan disini.
Bila Anda memiliki pendapat
sendiri, silakan berpendapat, silakan
menulisnya, dan dengan senang hati
nanti saya juga akan ikut
membacanya..
Salam Pemilu Cerdas, Pemilu
Pintar...!!— in Jakarta. Sumber dari
Fb (Arie Billy) juga dishare di Group
Relawan Jokowi Presiden
DPRa PK SEJAHTERA PaculTalangTegal
Sunday, 6 April 2014
JOKOWI SALAH? ATAU FANSNYA YANG SALAH DALAM MEMILIH ?
Wednesday, 26 March 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)