PK Sejahtera

Sunday, 28 April 2013

Cinta dalam Dakwah PKS

Dakwah memang begithu Dakwah adalah Cinta dan Cinta akan menguras semua energi kita. baik tenaga, pikiran kita, waktu, Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang. Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat. Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik. Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman.. Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “ Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari… “Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” (alm. Ust Rahmat Abdullah) Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah. : In memoriam Ust. Rahmat Abdullah La’allanaa fii barokatillah…. Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran….aamiin.

Saturday, 27 April 2013

All About Love PKS

Namaku sutrisno, sekarang saya menjabat sebagai ketua DPRa Pacul kecamatan talang kabupaten Tegal. saya lahir di tegal pada tanggal 7 April 1989. saya masih jomblo lho..hehe-_^. sekarang aktifitas saya di tegal, padahal dulu sering merantau, entah ke pabrik atau ke bengkel furniture punya kakak saya yang bernama Alindo Furniture. di tegal saya pengi mencoba mencari peluang usaha yang menjanjikan sekaligus berdakwah lewat Pemuda Muhammadiyah dan PKS. selama ini sih enjoy2 aja, bahkan temen2 pada seneng kalo ada saya yang siap di jalan dakwah bersama mereka. saya juga mempunyai komunitas kecil Halaqoh/ Liqo'at bernama khalaid bin walid. murobbi saya pak Eko, temen2 mas Nendar, mas Hasan, mas Kosim, mas Rizal, mas Sholeh, dan mas Yanis yang baru ikut gabung bulan kemaren. rasanya tiap pekan kangen pengin ketemu. jadi ya, walaupun jauh, hujan, gak jadi masalah. asalkan Liqo'at tetep berjalan.

Friday, 26 April 2013

BAHASA HATI

BAHASA HATI > > > > > > Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. > > Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. > > Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. > > Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. > > Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. > > > > Semua itu haruslah berasal dari hati anda. > > Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula. > > Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan > > betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati > > anda dalam menjalani segala sesuatunya. > > > > Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi > > hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. > > Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan > > kata-kata manis. > > Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak > > jantung yang tenang jauh di dalam dada anda. > > > > Mulailah melembutkan hati sebelum memberikannya pada > > orang lain agar keberhasilan anda juga menjadi motivasi > > bagi orang lain. Mudah - Marah, Mudah - Melupakannya > > > > Ada orang, agaknya dengan sedikit bangga, berkata bahwa > > "Memang aku mudah marah, tapi aku segera melupakannya." > > > > Mereka dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan sendiri luka hatinya. > > Tak heran, meski amarahnya meledak-ledak tak terkendali, > > hanya dalam hitungan detik mereka sudah berbaikan lagi; > > bersendau gurau seolah tak terjadi sesuatu apa. > > Betapa sebuah anugerah yang tak ternilai. > > > > Seorang bijak pernah berujar, "Bukankah demikian pula ketika bom atom > > dijatuhkan? Diperlukan beberapa menit saja untuk lari dari area peledakan. > > Namun, lihatlah kerusakan yang terjadi. Rasanya seabad tak cukup untuk > > menyembuhkan kerusakan yang terjadi." > > > > Amarah menimbulkan dua luka; di hati si empunya dan lebih dalam lagi > > di hati si korban. > > > > Mungkin mudah mengobati luka hati sendiri. > > Tetapi...., apakah anda menjamin kesembuhan luka orang lain? > > > > "Anugerah" yang lebih bercahaya adalah bila anda mampu membantu > > menyembuhkan luka hati orang lain. > > > > JAGALAH MULUT ANDA KARENA ITU "SUMBER" DARI SEGALANYA..

Wednesday, 24 April 2013

AKHLAQ MUSLIM SEJATI

Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa suatu umat yang bisa bangkit dan tegak, maju dan cemerlang peradabannya, adalah karena pribadi-pribadi mereka memiliki jiwa yang kuat, tekad yang bulat, cita-cita yang luhur, akhlak yang terpuji, perjalanan hidup yang mulia, saling berhubungan dengan erat di antara mereka dan keluarga mereka. Mereka menjauhi hal-hal yang merusak, perbuatan-perbuatan hina dan buruk, tidak melampiaskan nafsu mereka dalam segala kelezatan dan syahwat, jauh dari kejahilan dan penyimpangan. Akhlak mulia merupakan salah satu asas terpenting dalam ajaran Islam untuk membina pribadi dan memperbaiki masyarakat. Karena keselamatan masyarakat, kekuatan, kemuliaan, dan kewibawaan pribadi-pribadinya sangat tergantung pada sejauh mana mereka berpegang dengan akhlak mulia tersebut. Dan masyarakat akan hancur dan rusak tatkala mereka meninggalkan dan menjauhi akhlak yang terpuji. Allah telah memberikan Islam berbagai keistimewaan tersendiri yang menakjubkan, seperti ajarannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sifat wasathiyyah yaitu tengah-tengah antara sifat ifrath (ghuluw/berlebihan) dan sifat tafrith (lalai dan meremehkan), serta senantiasa aktual dan sesuai untuk setiap waktu dan tempat Maka dengan karunia Allah, Islam menjadi petunjuk dan pembimbing bagi manusia, petunjuk menuju jalan kebahagiaan, kebaikan, kegembiraan dan kesenangan di dunia dan akhirat. Dan kita dapati semua itu dalam ajaran Islam, karena Islam mengarahkan setiap pribadi manusia untuk membina fisik dan jiwanya secara sempurna dan seimbang, tidak timpang pada salah satunya.
 Islam menyeru agar mereka berpegang dengan akhlak mulia dan mendakwahkannya, dan agar mereka meninggalkan serta menjauhi segala akhlak yang buruk Ajaran akhlak yang mulia ini telah diperlihatkan oleh suri teladan umat ini yaitu Rasulullah yang telah disifati oleh Allah dengan firman-Nya, وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang mulia" (QS. Al Qalam: 4) Sa'ad bin Hisyam pernah bertanya kepada 'Aisyah rodhiAllahu 'anha tentang akhlak Rasulullah, maka 'Aisyah rodhiAllahu 'anha menjawab, "Akhlak beliau adalah Al Quran." Lalu Sa'ad berkata, "Sungguh saya ingin berdiri dan tidak lagi menanyakan sesuatu yang lain." (HR. Muslim) Oleh karena itu, Rasulullah merupakan sosok pribadi yang paling bagus akhlaknya seperti yang disaksikan oleh Anas bin Malik pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun-ketika beliau berkata; "Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya." (HR. Muslim) Maka pantaslah Rasulullah menjadi suri teladan bagi kita dalam segala aspek kehidupan beliau shollAllahu 'alaihi wa sallam seperti yang telah diberitakan oleh Allah dalam firman-Nya, لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Allah dan (keselamatan di) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21)
 Dan Rasulullah sendiri telah memotivasi umatnya yang beriman untuk berpegang teguh dengan akhlak yang bagus dan menjauhi akhlak yang buruk, seperti dalam sabda-sabda beliau berikut ini: Dari Abu Darda' bahwa Nabi bersabda: ((ما من شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله تعالى ليبغض الفاحش البذيء)) "Tiada suatu perkara yang paling memberatkan timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain daripada akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah amat benci kepada seorang yang buruk perbuatan dan ucapannya" (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh al Albani) Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab, تقوى الله وحسن الخلق "Bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia" Sementara ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab, الفم والفرج "Mulut dan kemaluan" (HR. Tirmidzi dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh Albani)
 Dan Rasulullah menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling sempurna akhlaknya, seperti yang beliau sabdakan, إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا، وخياركم خياركم لنسائهم "Sesungguhnya mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya"(HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani) 
Bahkan Rasulullah telah menjadikan orang-orang yang berakhlak mulia sebagai orang-orang yang paling dekat duduknya dengan Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya, إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحسنكم أخلاقا، وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون، قالوا: يا رسول الله، قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsarun (yang banyak bicara), mutasyaddiqun (yang bicara sembarangan lagi mencela manusia) dan mutafaihiqun.” Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui tsartsarun dan mutasyaddiqun, tapi siapakah mutafaihiqun itu?" Rasulullah menjawab, "Mutakabbirun" (orang-orang yang sombong)." (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani) Namun, problem yang amat jelas kita lihat di dunia Islam sekarang yaitu bahwa umat Islam telah meninggalkan akhlak mulia yang diseru oleh agama mereka sendiri yang bersumber dari Al Kitab dan As Sunnah.
 Kita melihat bahwa agama Islam berada di suatu tempat dan kaum muslimin berada di tempat lain yang berjauhan. Seorang muslim hanya membawa Islam pada nama dan KTP-nya saja. Tetapi dalam praktek keseharian, muamalah dan seluk beluknya tidak didapati nilai-nilai ajaran Islam yang mulia tersebut. Arahan-arahan Islam tidak berlaku, norma-normanya tidak memiliki tempat, dan kaidah-kaidah Islam tidak lagi terhormat dalam diri mereka.
 Demikianlah kenyataan yang memilukan yang menimpa umat Islam, yang semakin hari sepertinya semakin jauh dan lalai dari mempraktekkan nilai-nilai agama mereka yang mulia, sehingga pantas pula jika umat Islam mengalami berbagai bencana hari demi harinya, kekalahan-kekalahan di setiap tempat mereka, serta ketertinggalan dari umat-umat yang lain. Umat Islam sepertinya tidak lagi memiliki 'izzah (kemuliaan dan kewibawaan) yang dapat membuat umat-umat lain segan kepada mereka. Itu semua karena umat Islam tidak berpegang teguh dengan nilai-nilai ajaran agama mereka. Benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab, إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله "Kita dahulu adalah kaum yang terhina lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya niscaya Allah akan menghinakan kita" (HR. Hakim dan ia berkata, "Shahih sesuai syarat/standar Bukhari dan Muslim”, dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib)
 Dan kaum muslimin akan tetap berada dalam kehinaan selama mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang agung lagi mulia dan cenderung mengikuti hawa nafsu dalam meraih kemewahan dunia sampai mereka mau kembali kepada agama mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ((إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم)) "Apabila kalian berjual beli dengan 'inah (riba), memegangi ekor-ekor sapi dan senang dengan cocok tanam (yakni lebih condong kepada kesenangan dunia), serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Allah cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian." (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Syaikh Albani) Maka sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk bangkit dengan kembali kepada ajaran-ajaran agama mereka yaitu Islam yang lurus, agar mereka dapat kembali memperoleh 'izzah (kemuliaan dan kewibawaan) seperti yang telah diraih oleh pendahulu mereka Salafus Shalih sehingga mereka akan menjadi umat yang kuat dan kokoh yang disegani oleh umat-umat lainnya.
 Tentunya yang paling penting adalah menggali kembali nilai-nilai mulia Islam tersebut dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta sirah kehidupan Salafus Shalih yang telah mewariskan jejak-jejak mulia yang harus kita telusuri dan ikuti, di antaranya adalah warisan akhlak yang baik dan mulia. WAllahul Muwaffiq. (Dari Tauthi'ah pentahkiq kitab Makarimul Akhlaq karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perubahan-). Definisi Akhlaq Akhlaq (أَخْلاَقٌ) menurut etimologi bahasa Arab adalah bentuk jamak dari khuluq (خُلُقٌ) yang di antaranya berarti jalan hidup/adat kebiasaan, tabiat dan perangai. (Ibnul Atsir dalam Gharibul Hadits). (Dari Ridalah Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20 Syaikh Abdul Muhsin al Abbad). Sedangkan menurut istilah ia mengandung dua makna, salah satunya lebih umum dari yang lain, yaitu: Sifat yang tertanam dengan kokoh dalam setiap jiwa, baik yang terpuji maupun tercela. (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20 Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan ungkapan lain yaitu: Gambaran batin yang telah ditabiatkan kepada manusia. (Kitabull Ilmi hal. 256 Syaikh Ibnu Utsaimin).
 Sifat yang berwujud sikap berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat, baik berupa perintah yang harus/perlu dikerjakan atau larangan yang harus/perlu ditinggalkan. (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20� Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan kata lain bahwa jenis kedua ini dapat dihasilkan dengan usaha dan latihan yang diupayakan oleh manusia. (Kitabul Ilmi hal. 256 Syaikh Ibnu Utsaimin). Jadi, akhlak itu ada yang berupa tabiat dan perangai yang telah ditanamkan oleh Allah pada setiap jiwa manusia dan bersifat umum, meliputi perangai yang terpuji dan tercela. Dan ada pula yang berupa sifat yang diusahakan dengan mempelajari dan berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat dan ini lebih khusus dari yang pertama Contoh jenis pertama adalah seperti apa yang dikatakan Nabi kepada Asyaj Abdul Qais, إن فيك لخلقين يحبهما الله: الحلم والأناة، فقال: أخلقين تخلقت بهما ؟ أم خلقين جبلت عليهما ؟ فقال: ((بل خلقان جبلت عليهما))، فقال: الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما الله تعالى. "Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang disukai oleh Allah yaitu santun dan hati-hati (tidak tergesa-gesa)." Asyaj berkata, "Apakah dua perangai tersebut adalah yang kuupayakan atau yang ditabiatkan kepadaku?" Nabi menjawab, "Dua perangai yang telah ditabiatkan kepadamu." Maka Asyaj pun berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menabiatkan dua perangai yang Allah sukai." (HR. Abu Daud dengan lafaz yang mendekati- dan lafal ini dinukil dari Syarah al Aqidah ath Thahawiyah serta disahihkan oleh Syaikh Albani. Dan bagian pertama asalnya ada dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan selainnya). (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 256). Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil yang menunjukkan adanya akhlak terpuji yang berupa tabiat asal yang diberikan oleh Allah kepada diri seseorang dan ada yang diupayakan. Dan bahwa yang merupakan tabiat itu lebih utama daripada yang diupayakan. (Kitabul Ilmi 256). Adapun contoh jenis kedua adalah apa yang terisyaratkan dalam sabda beliau, البر حسن الخلق "Kebaikan itu (terletak pada) akhlak yang bagus/mulia" (HR. Muslim)
 Dan seperti dalam jawaban 'Aisyah rodhiAllahu 'anha ketika menafsirkan firman Allah, وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ Ia menjawab, "Akhlaknya (Rasulullah) adalah Al Quran" (HR. Muslim) (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 21). Dan tentunya yang kita bahas adalah akhlaq yang terpuji. Aspek Cakupan Akhlak Banyak orang yang memahami dan mengira bahwa akhlak mulia itu hanya menyangkut hubungan dengan makhluk yang lain dan tidak menyangkut hubungan dengan Khalik (Allah). Namun itu merupakan pemahaman yang salah, karena akhlak mulia ini juga mencakupi hubungan dengan Khalik (Allah) sebagaimana mencakupi hubungan dengan makhluk. Adapun yang menyangkut hubungan dengan Allah, maka terangkum dalam tiga hal pokok yaitu: Membenarkan segala kabar berita dari Allah Melaksanakan dan merealisasikan hukum-hukumNya. Bersabar dan ridho terhadap takdir Allah. 1. Membenarkan segala berita dari Allah Artinya bahwa seseorang tidak boleh ragu dan bimbang terhadap kebenaran berita dari Allah, karena Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah memberitakan sesuatu melainkan atas dasar ilmu-Nya lagi Dia adalah Yang paling benar perkataannya sebagaimana firman-Nya, وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثًا "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah" (QS. An Nisaa: 87)
 Dengan akhlak ini seseorang bisa membela segala berita yang bersumber dari Allah dan menjawab semua syubhat, baik dari kalangan kaum muslimin yang mengadakan bid'ah dalam agama maupun dari luar kaum muslimin. Demikian pula terhadap kabar berita dari Rasulullah, maka seseorang juga harus meyakini kebenarannya apalagi kalau itu adalah berita tentang perkara gaib yang sudah jelas bahwa beliau tidak mengatakannya kecuali dari wahyu Allah. Allah berfirman menceritakan Rasul-Nya, وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى "Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" (QS. An Najm: 3-4) Sebagai contoh bahwa beliau pernah bersabda, ((إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء)) "Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah satu dari kalian maka celupkanlah (lalat tersebut) kemudian buanglah, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada penawar" (HR. Bukhari)
 Maka dalam hadits ini terdapat berita dan termasuk perkara gaib yang tidak mungkin beliau mengatakannya dari diri beliau sendiri tanpa wahyu dari Allah. Karena beliau adalah manusia yang tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diwahyukan kepada beliau. Bahkan Allah yang memerintahkan Rasul-Nya, قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيّ Katakanlah, "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku" (QS. Al An'am: 50)
 Maka berita Rasulullah di atas harus disikapi dengan akhlak mulia yaitu dengan menerimanya sepenuh hati bahwa apa yang diberitakan oleh Rasulullah adalah haq dan benar meskipun ada orang-orang yang membantahnya. (Lihat Kitabul Ilmi 257-258).
 2. Melaksanakan dan Merealisasikan Hukum-hukum Allah Akhlak seseorang terhadap hukum-hukum Allah adalah dia harus menerimanya lalu melaksanakan dan merealisasikannya. Tidak menolak satu pun hukum Allah. Jika seseorang menolaknya maka itu merupakan bentuk akhlak yang buruk terhadap Allah yang telah menciptakannya. Dan penolakan ini mencakupi pengingkaran terhadap hukum tersebut, tidak mau mengamalkannya dengan kesombongan atau meremehkan pengamalannya. Misalnya ibadah shiyam (puasa) yang dirasa berat bagi seseorang, karena dia harus meninggalkan hal-hal yang disukainya dan dibutuhkannya seperti makan, minum dan jima'. Tetapi seorang mukmin yang bagus akhlaknya terhadap Rabbnya ia akan menerima beban berat tersebut dengan lapang dada dan tenang, maka ia pun menjalani hari-hari panjang yang panas dalam keadaan ridho dan lapang dadanya, karena dia orang yang berakhlak bagus terhadap Rabbnya. Berbeda halnya dengan yang buruk akhlaknya terhadap Allah maka ia akan mengeluh dan tidak menyukai ibadah ini. Dan kalaulah bukan karena kekhawatirannya terhadap suatu akibat buruk tentulah dia tidak akan menunaikan shiyam. (Lihat Kitabul Ilmi 259).
 3. Bersabar dan Ridho terhadap Takdir Allah Kita semua mengetahui bahwa takdir Allah yang berlaku pada setiap hamba itu ada yang menyenangkan menurut hamba tersebut dan ada yang tidak. Misalnya setiap orang menginginkan sehat dan tidak menginginkan sakit. Tetapi Allah menakdirkan dengan hikmah-Nya untuk memvariasikan dua keadaan tersebut pada setiap manusia. Maka seperti apa akhlak yang mulia terhadap Allah dalam masalah takdir-Nya ini? Yaitu seseorang harus ridho dengannya dan tenang menerimanya. Dan meyakini bahwa tidaklah Allah menakdirkan itu semua melainkan untuk suatu hikmah dan tujuan yang terpuji. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang bersabar ketika ditimpa musibah dan mengucapkan kalimat istirja' dalam firman-Nya, وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar." (QS Al Baqoroh: 155) (Lihat Kitabul Ilmi hal. 256-262 �secara ringkas dan dengan perubahan-). Di antara bentuk-bentuk akhlak mulia terhadap Allah juga adalah sebagai berikut: a. Ikhlas Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah seperti yang Allah firmankan, وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah: 5) فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّين َ، أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ "Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (QS. Az Zumar: 2-3) Di antara ciri ikhlas adalah seseorang mengerjakan ibadah dengan kontinu dan tetap istiqomah dalam ibadahnya tersebut. Seperti diisyaratkan dalam sabda Nabi sholallohu 'Allahi wasallam, استقيموا و لن تحصوا و اعلموا أن خير أعمالكم الصلاة و لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن "Istiqamahlah sampai tak terhingga, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat, dan tidak ada yang memelihara wudhu kecuali mukmin." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Albani) Dan hadits: إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان "Jika kalian melihat seseorang membiasakan diri (shalat di) masjid, maka saksikanlah bahwa ia seorang mukmin" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Dan ada kelemahan pada sanadnya meskipun maknanya sahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam ta'liq/catatan beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin pada hadits no. 1067) (Makarimul Akhlaq hal. 27-28). b. Takwa Sesuai perintah Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُوراً تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ. "Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian" (QS. Al Hadid: 28) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar" (QS. Al Ahzab: 70) (Makarimul Akhlaq hal. 35-36). c. Rasa Malu Sifat malu yang dimaksud adalah yang bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Allah. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya, الحياء من الإيمان "Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim) (Makarimul Akhlaq hal. 73). d. Taubat Taubat adalah di antara bentuk ibadah yang agung, yang maknanya adalah seseorang kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya setelah berbuat salah dan dosa. Sebesar apapun dosa dan kesalahan hamba, bila dia bertaubat kepada Allah niscaya Allah akan mengampuninya dan menghapus dosanya tersebut. Allah berfirman, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ "Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya" (QS. Az Zumar: 53-54) Bahkan meskipun itu dosa kekafiran, jika seorang kafir meninggalkan kekafirannya dan menuju Islam, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Allah berfirman, قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ…. "Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang terdahulu" (QS. Al Anfal: 38) Dan Nabi pernah berkata kepada 'Amr bin al 'Ash yang dahulunya termasuk pembesar orang-orang kafir, يا عمرو: أما علمت أن الإسلام تجب ما كان قبله "Wahai 'Amr, tidakkah kau tahu bahwa Islam akan menutupi (dosa-dosa) yang terdahulu" (HR. Muslim) (Makarimul Akhlaq hal. 103-105). Dan lain sebagainya. Adapun akhlak mulia terhadap sesama makhluk khususnya terhadap sesama Muslim, maka telah didefinisikan oleh Hasan al Bashri rahimahulloh yang menyatakan bahwa akhlak mulia itu adalah: كف الأذى، وبذل الندى، وطلاقة الوجه "Tidak menyakiti, ringan tangan (suka menolong) dan bermuka manis terhadap yang lain" Maka dalam perkataan beliau terdapat tiga hal pokok yang merupakan akhlak mulia terhadap sesama makhluk, yaitu: 1. Tidak menyakiti orang lain. Baik terkait dengan harta, jiwa maupun harga dirinya. Barang siapa yang tidak bisa menahan diri dari menyakiti orang lain maka berarti dirinya berakhlak buruk. Padahal Rasulullah telah menyiarkan hal ini di hadapan kumpulan yang terbesar dari umatnya yaitu ketika haji wada' dengan sabdanya, إن دماءكم، وأموالكم، وأعراضكم، عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا "Sesungghnya darah, harta dan harga diri kalin itu haram (terhormat), seperti terhormatnya hari, bulan dan negeri kalian ini" (HR. Bukhari dan Muslim) Maka jika seseorang berkhianat dalam harta orang lain, memukul dan berbuat jahat terhadap orang lain atau mencela harga diri dan menggunjing orang lain, berarti dia bukan seorang yang berakhlak mulia terhadap sesama. Misalnya berlaku buruk terhadap tetangga, maka Nabi telah mengatakan tentang orang yang berlaku demikian dalam sabdanya, والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن. قيل: من يا رسول الله؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه. رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم .لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه. �والبوائق هي الشرور-. "Demi Allah tidaklah seorang beriman (3x)." Beliau ditanya, "Siapakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu yang tetangganya tidak merasa aman dengan kejahatannya." Dalam riwayat Muslim: "Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya" (Kitabul Ilmi hal. 262, 263). Dan seorang muslim yang dapat menahan diri dari menyakiti orang lain dengan lidah maupun anggota badannya, maka ia adalah muslim sejati, sebagaimana sabda Nabi, المسلم من سلم الناس من يده ولسانه… "Muslim (sejati) adalah yang orang lain selamat dari (gangguan) tangan dan lidahnya" (Muttafaqun 'alaihi) (Ushul al Manhaj al Islami hal. 541).
 2. Ringan tangan (suka menolong/dermawan). Sifat menolong dan dermawan bukan hanya dengan harta, tetapi meliputi pengorbanan jiwa, kedudukan dan harta. Jika seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu dalam mengarahkan urusan mereka, menebarkan ilmu dan membagi-bagikan hartanya kepada manusia, maka kita menyifati dirinya sebagai orang yang berakhlak mulia karena dia telah berkorban dalam hal-hal tersebut. Nabi bersabda, اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن "Bertakwalah kepada Allah di manapun kau berada, dan susullah keburukan itu dengan kebaikan, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Darimi dan dihasankan derajatnya oleh Syaikh Albani) Maka jika seseorang dizalimi atau diperlakukan buruk oleh orang lain maka lebih baik memaafkannya. Karena Allah memuji orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dalam firman-Nya tentang sifat penghuni surga, الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134) Allah juga berfirman, وأن تعفوا أقرب للتقوى "Dan kamu memaafkan itu lebih dekat kepada ketakwaan" (QS. Al Baqoroh: 134) Demikian pula dalam firman-Nya, فمن عفا وأصلح فأجره على الله "Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah" (QS. Asy Syura: 40) Artinya bahwa memaafkan kesalahan orang lain termasuk bentuk menolong, karena dengannya telah menggugurkan tanggungan dosa atau kafarah dari orang tersebut.
 3. Adapun bermuka manis, artinya seseorang menampakkan wajah yang ceria dan berseri di hadapan orang lain. Nabi pernah bersabda, لا تحقرن من المعروف شيئا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق "Janganlah kamu meremehkan sedikit pun perkara makruf/kebaikan, walaupun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah berseri" (HR. Muslim) Karena wajah ceria dan berseri membuat orang yang ditemui merasa senang, dan dapat mendatangkan kecintaan dan membuat hati lega, baik hatinya maupun hati orang lain Dan di antara akhlak mulia yang harus diketahui oleh seseorang adalah mempergauli orang-orang dekatnya dengan pergaulan yang baik, seperti teman-temannya, karib kerabatnya, keluarganya. Yaitu dengan tidak merasa sempit/tertekan bersama mereka atau tidak menyempitkan dan menekan mereka, namun semestinya ia bisa membuat mereka senang dalam batasan-batasan syariat Allah Nabi bersabda, خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku daripada kalian" (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Albani) Dan diantara yang paling berhak mendapatkan pergaulan yang baik dari seseorang adalah orang tuanya, terutama ibunya. Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu bertanya, يا رسول الله، من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أبوك)). رواه البخاري ومسلم "Siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Maka Nabi menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu." Lalu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim) (Kitabul Ilmi 263-268). Dan sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa akhlak mulia itu ada yang berupa tabiat asal yang diberi oleh Allah dan ada yang dihasilkan melalui jalur usaha dan upaya. Dan bahwa yang berupa tabiat lebih sempurna daripada yang diupayakan. Sedang yang diperoleh dari jalur usaha bisa jadi seseorang terluput dalam banyak hal, karena ia perlu melatihnya dan bekerja keras serta perlu senantiasa ada pengingat di saat ada hal yang membuat seseorang goyah atau bergejolak dalam dirinya. Seperti ketika seseorang datang kepada Nabi dan meminta wasiat kepada beliau, maka Nabi mengatakan kepadanya, لا تغضب "Janganlah kamu marah" "Orang tersebut mengulang-ulang permintaan wasiatnya, dan Nabi tetap menjawab demikian." (HR. Bukhari) Nabi juga pernah bersabda, ليس الشديد بالصرعة، وإنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب "Orang yang kuat bukanlah yang bisa mengalahkan (lawannya), tetapi orang yang bisa menguasai dirinya di saat marah" (HR. Bukhari dan Muslim) Maka menahan amarah dan menguasai diri di saat marah termasuk akhlak yang mulia. Dan Nabi telah memberikan penawar marah, yaitu jangan melampiaskan marah tersebut, lalu berlindung kepada AllohAllah syaitan yang terkutuk (HR Tirmidzi). "Jika dia sedang berdiri maka hendaknya duduk dan jika belum hilang juga maka hendaknya berbaring" (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi) Dan untuk memperoleh akhlak mulia dengan jalur usaha maka seseorang memerlukan hal-hal berikut: 
1. Menelaah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang banyak memuat tentang pujian terhadap akhlak mulia Dengan demikian diharapkan seseorang terdorong untuk mengerjakannya. 
2. Memilih teman-teman yang baik, shalih dan bisa dipercaya perbuatan dan amanah mereka. Karena Nabi pernah bersabda, إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة "Sesungguhnya perumpamaan teman baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Maka penjual minyak wangi bisa jadi memberimu, atau kamu membeli darinya atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi bisa jadi akan membakar bajumu atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau tak sedapnya" (HR. Bukhari dan Muslim) Maka hendaknya seseorang memilih teman-teman yang berakhlak mulia dan jauh dari akhlak buruk. 
3. Memperhatikan akibat buruk dari akhlak tercela. Orang yang berakhlak buruk dibenci, dijauhi serta dicela. Maka jika seseorang mengetahui akibat buruk dari akhlak yang tercela maka ia akan menjauhinya. (Kitabul Ilmi hal. 269-271). Penulis asli: Ustadz Arif Syarifuddin Referensi: Makarimul Akhlaq, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kitab al Ilmi, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Min Akhlaq ar Rasul al Karim, oleh Syaikh Abdul Muhsin al Abbad. Ushul al Manhaj al Islami, oleh Syaikh Abdurrahman al Ubayyid. http://muslim.or.id/artikel/akhlaq-dan-nasehat/akhlak-muslim-sejati.html

5 Tahun jadi Anggota Dewan, Aleg PKS ini belum punya rumah hidupnya menumpang di masjid. PKS Piyungan

Oleh @iman_azzam Anak-anak saya memanggilnya Paman Janggut, sapaan ini disebabkan janggut tebal menggantung di dagu yang menjadi ciri khasnya. Ia adalah kakak sulung saya, umurnya 42 tahun. Mungkin tidak ada yang istimewa darinya, selain ia adalah inspirasi bagi kami, sembilan orang adiknya. Paman Janggut adalah simbol kesungguhan dan keikhlasan. Paman Janggut remaja memulai tradisi nyantri sejak SMP di sebuah Pesantren yang diasuh oleh Kyai NU Kharismatik di Banten. Karena kesungguhannya mendaras kitab kuning, Ia pun dipercaya untuk mengajar Ilmu Nahwu sharaf dan tafsir oleh Sang Kyai. Dengan niat meringankan beban orang tua yang anak banyak, Paman Janggut kuliah di LIPIA Jakarta, lalu melanjutkan studi ilmu hadits di Madinah University. Kedua lembaga pendidikan ini milik Arab Saudi yang bebas biaya dan mendapatkan uang saku. Kembali ke Tanah Air, Paman Janggut mendedikasikan diri untuk berdakwah di Lebak Banten. Hidupnya diwakafkan untuk Ummat. Mengajarkan ilmu agama dari kampung ke kampung yang kadang jaraknya mesti ditempuh 4 jam perjalanan. Dakwahnya diterima di semua kalangan baik warga NU, Muhammadiyah, mahasiswa, pelajar, dan ibu ibu. Kerapkali Paman Janggut diminta untuk meruqyah orang yang kesurupan jin, hingga ia juga dikenal sebagai Ustadz Ruqyah di Banten. Sampai suatu ketika, Paman Janggut dicalonkan menjadi Anggota DPRD dari PKS. Awalnya ia menolak karena tak punya uang untuk kampanye. Ia bukan pengusaha juga bukan anak orang kaya. Hidupnya ia dedikasikan untuk mengajar yang kadang diberi imbalan kadang tidak. Keuangan rumah tangganya terbantu oleh isterinya yang bekerja sebagai PNS. Akhirnya Paman Janggut terpilih sebagai anggota DPRD dan itu tak menghentikan kegiatan dakwahnya kepada masyarakat. Ia pernah bercerita kepada kami, adik-adiknya bahwa menjadi anggota DPRD itu berat dan sengsara. Tugas makin padat dan makin banyak masyarakat yang meminta sumbangan. Sementara Paman Janggut pantang menerima uang yang tidak jelas kehalalannya. Lima tahun menjadi anggota DPRD, Paman Janggut masih tak juga punya rumah. Ia dan keluarganya menumpang di rumah yang dikhususkan untuk Imam Masjid yang dibangun oleh Donatur dari Arab. Ia tak pernah mengeluh dan selalu terlihat ceria dan semangat. Kini Paman janggut tidak lagi menjadi anggota DPRD. Ia dan kawan-kawannya dari PKS sibuk mengembangkan Yayasan Pendidikan yang mengelola SDIT, SMPIT, dan Boarding School. Sebelum Ia membina anak orang lain, Paman Janggut memberikan contoh teladan. Anaknya telah hafal quran 30 Juz pada saat kelas tiga SMP dan selalu menjadi juara kelas. Maka, meskipun Paman Janggut tak pernah mengajak kami untuk masuk PKS, kami sembilan orang adiknya mengikuti beliau menjadi kader PKS dengan beragam profesi yang kami jalani. Ada yang menjadi bidan, dosen, trainer, engineer, bankir, dan pengusaha. Meski berbeda tetapi visi kami satu : Mewujudkan Sepenggal Firdaus bernama Indonesia. http://www.pkspiyungan.org/2013/04/5-tahun-jadi-anggota-dewan-aleg-pks-ini.html ***
dakwatuna.com – Banyak pertanyaan kepada kami mengenai ini, baik melalui sms atau email. Terkait adanya Partai Islam yang mencalonkan Non Muslim sebagai Caleg (Calon Anggota Legislatif) dari partai Islam tersebut. Yang perlu ditekankan adalah tentunya caleg non muslim tersebut wajib mengakui asas Islam dan platform partai Islam tersebut. Apakah hal keberadaan mereka untuk membantu perjuangan Partai Islam dibenarkan syariat? Ataukah ini hal yang sifatnya situasional dan bisa berlaku bagi daerah tertentu, daerah yang minim umat Islam dan juga lemah keadaannya seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, namun tidak boleh bagi daerah lain yang umat Islam adalah mayoritas dan kuat, seperti pulau Jawa dan Sumatera? Debatable Sejak Lama … Sebenarnya masalah ini bukan permasalahan baru, tetapi sudah terjadi sejak lama; yakni bolehkah dalam perjuangan umat Islam dengan memanfaatkan bantuan orang kafir, baik bantuan dana, persenjataan, atau partisipasi langsung jiwa raga mereka dalam barisan umat Islam. Dahulu, awal tahun 90-an, pasca serangan Irak ke Kuwait, yang akhirnya melahirkan perang teluk pertama, para ulama di kerajaan Arab Saudi memfatwakan bolehnya meminta bantuan Amerika Serikat (saat itu dipimpin oleh George Bush Senior) yang nota bene kafir untuk melawan keberingasan Saddam Husein, seorang Sosialis Aktivis Partai Ba’ts Irak, yang didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen. Mereka menganggap Saddam Husein sudah bukan lagi muslim, baik karena kekejamannya kepada umat Islam Kurdi dan semua lawan politiknya, dan juga karena ideologinya yang Sosialis. Kekafiran Saddam Husein difatwakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Said Hawwa (Syria), Syaikh Abdullah ‘Azzam (Al Filisthini tsumma Al Urduni), dan lainnya. Sederhananya adalah memanfaatkan kekuatan orang kafir untuk melawan orang kafir lainnya, karena keadaan diri yang masih lemah. Fatwa ini, bukan berarti tanpa kritik. Para ulama Arab Saudi sendiri mengkritiknya, khususnya dari para ulama muda semisal Syaikh Salman Fahd Al ‘Audah (Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslimin Sedunia yang diketuai oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi) dan Syaikh ‘Aidh Al Qarny (pengarang kitab Laa Tahzan), yang karena kritikannya itu mereka berdua di penjara oleh pihak Kerajaan. Kritikan juga datang dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah yang tidak menyetujui fatwa tersebut. Sebab, dari fatwa ini yang menjadi korban bukanlah AS dan Saddam Husein dan tentaranya, tetapi rakyat Irak yang muslim. Merekalah yang mengalami penderitaan karena kezhaliman AS dan Saddam Husein saat itu. Lebih lama lagi, gerakan Islam terbesar abad modern, Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir pada masa Al Ustadz Syahidul Islam Hasan Al Banna Rahimahullah juga pernah menempatkan seorang Kristen Koptik (Qibthy) sebagai wakil mereka di parlemen Mesir. Sejak jauh hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang menyebutkan bahwa kaum Koptik akan menjadi penolong perjuangan umat Islam. Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, bahwa menjelang wafat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau berwasiat: الله الله فى قبط مصر فإنكم ستظهرون عليهم فيكونون لكم عدة وأعوانًا فى سبيل الله Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, dalam bergaul dengan kaum Qibthi Mesir. Sesungguhnya kalian akan mengalahkan mereka, dan mereka akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi kalian dalam perjuangan fi sabilillah. (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 561, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 34023)[1] Abdullah bin Yazid dan Amru bin Huraits, dan selainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: إنكم ستقدمون على قوم جعد رؤوسهم فاستوصوا بهم خيرا فإنهم قوة لكم وبلاغ إلى عدوكم بإذن الله ـ يعني قبط مصر ـ Sesungguhnya kalian akan mendatangi kaum yang keriting kepalanya, maka berwasiatlah yang baik-baik dengan mereka, karena mereka akan menjadi kekuatan bagimu, dan menjadi bekal bagimu untuk melawan musuh-musuhmu dengan izin Allah. –yaitu kaum Qibthi Mesir. (HR. Abu Ya’la No. 1473, berkata Husein Salim Asad: para perawinya tsiqaat (terpercaya). Ibnu Hibban No. 6677)[2] Penolong kita adalah Allah, RasulNya, dan Orang-orang beriman Inilah dasar bagi setiap orang beriman, tidak ragu lagi dan tidak diperdebatkan lagi, bahwa mereka menjadikan Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman sebagai tempat memberikan Al Wala. Itulah hizbullah yang dijanjikan kemenangan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Al Wala bukan kepada orang kafir, musyrik, munafiq, ahludh dhalal, dan mubtadi’. Allah Ta’ala berfirman: إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56) Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah (hizbullah) Itulah yang pasti menang. (QS. Al Maidah: 55-56) Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala (loyalitas dan cinta) kepada Yahudi dan Nasrani, dan ini terlarang. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (QS. Al Maidah: 51) Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala kepada orang-orang yang mempermainkan agama. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu (Yakni Ahli Kitab), dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al Maidah: 57) Apakah makna wali dalam ayat-ayat ini? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berarti penolong dan kekasih. (Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, 9/319) Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang menguasai (pemimpin). (Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582) Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman. Bagaimana jika keadaan tidak normal; lemah dan masih sedikit Bagaimana jika keadaan umat Islam masih sedikit (minoritas) -tentunya juga masih lemah- bolehkah meminta bantuan mereka dalam sebagian urusan kaum muslimin? Tentunya dalam hal ini adalah Partai Islam di sana memanfaatkan non muslim sebagai wakilnya di parlemen mereka di sana? Sebab, jangankan mencari kadernya sendiri, mencari orang Islam saja tidak mudah. Tentunya adalah sebuah prestasi tersendiri jika ada Partai Islam yang mampu mengajak orang kafir untuk turut membantu perjuangan ideologi dan platform Partai Islam tersebut. Bagaimana bisa seseorang yang tidak meyakini kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak mengakui kebenaran Islam, justru dengan sadar jatuh hati dan tertarik, lalu menawarkan dirinya ikut membantu perjuangan Partai Islam? Lalu, apakah ayat-ayat tentang larangan meminta bantuan kepada orang kafir tetap berlaku dalam keadaan lemah dan minor seperti ini? Ataukah ini situasi yang dimaafkan dan dikecualikan? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukannya Dalam proses perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu memanfaatkan jasa bantuan seorang dari Bani Ad Diil yang beragama kafir Quraisy sebagai petunjuk jalan menuju Madinah. ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bercerita: وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari No. 2264) Ini menjadi dasar bahwa meminta bantuan orang kafir adalah boleh, jika dalam keadaan lemah, dan masih sedikit. Jika memang ini terlarang secara mutlak, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi orang pertama yang mencegah dirinya sendiri untuk melakukan itu dan dia akan serukan kepada segenap manusia. Tetapi, kenyataan justru menunjukkan sebaliknya, saat itu kaum muslimin yang tersisa di Mekkah tinggal berlima; Nabi, Abu Bakar, putranya, Asma, dan Ali. Jumlah yang sedikit dan tentunya lemah. Mereka pun sudah memiliki tugas masing-masing, putranya Abu Bakar tetap berada di Mekkah untuk mengawasi keadaan dan mencari=cari perkembangan berita. Asma Radhiallau ‘Anha bertugas membawakan makanan untuk Nabi dan Abu Bakar, sementara Ali Radhiallahu ‘Anhu berada di rumah nabi menggantikannya setelah nabi dikepung oleh gabungan berbagai kabilah kaum kuffar Quraisy. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah mendapatkan dukungan dari Musyrikin Bani Khuza’ah untuk melawan musuhnya. Juga masih banyak peristiwa-peristiwa lainnya, sebagaimana yang nanti kami lampirkan. Pandangan Para Ulama Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang peristiwa hijrah tersebut: وَفِي الْحَدِيثِ اسْتِئْجَارُ الْمُسْلِمِ الْكَافِرَ عَلَى هِدَايَةِ الطَّرِيقِ إِذَا أُمِنَ إِلَيْهِ واستئجار الْإِثْنَيْنِ وَاحِدًا على عمل وَاحِد جَازَ Dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim mengupah orang kafir untuk membantunya memberikan petunjuk jalan jika hal itu aman baginya, dan juga dua orang yang mengupah satu orang dalam satu perbuatan, itu adalah diperbolehkan. (Fathul Bari, 4/442-443) Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan: عامة الفقهاء، يجيزون استئجارهم – أي المشركين – عند الضرورة وغيرها لما في ذلك من المذلة لهم، وإنما الممتنع أن يؤاجر المسلم نفسه من المشرك لما فيه من إذلال المسلم Kebanyakan ahli fiqih membolehkan mengupah mereka –yaitu kaum musyrikin- ketika kebutuhannya mendesak dan selainnya, dan karena hal itu dapat merendahkan mereka (musyrikin), sebaliknya seorang muslim janganlah menjadi orang yang diupah oleh kaum musyrikin, karena hal itu dapat merendahkan seorang muslim. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 6/387) Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: في استئجار النبي صلى الله عليه وسلم عبد الله بن أريقط الدؤلي هاديا في وقت الهجرة وهو كافر دليل على جواز الرجوع إلى الكافر في الطب والكحل والأدوية والكتابة والحساب والعيوب ونحوها ما لم يكن ولاية تتضمن عدالة ولا يلزم من مجرد كونه كافرا أن لا يوثق به في شيء أصلا فإنه لا شيء أخطر من الدلالة في الطريق ولا سيما في مثل طريق الهجرة. Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengupahi Abdullah bin Uraikith Ad Du’aliy sebagai orang yang menunjuki jalan pada waktu hijrah, dia dalam keadaan kafir, menunjukkan bolehnya merujuk kepada orang kafir dalam hal kedokteran, pengobatan, tulis menulis, menghitung, dan semisalnya, selama pertolongan itu tidak mengandung semakin kuatnya kekafirannya, maka tidak apa-apa memintanya sebagai petunjuk jalan apalagi jalan untuk hijrah. (Bada’i Al Fawaid, 3/208) Imam Al Hazimi mengatakan: وذهبت طائفة: إلى أن للإمام أن يأذن للمشركين أن يغزوا معه ويستعين بهم ولكن بشرطين: (1) أن يكون في المسلمين قلة وتدعو الحاجة إلى ذلك. (2) أن يكونوا ممن يوثق بهم فلا تخش ثائرتهم. Segolongan ulama berpendapat: “Pemimpin bisa mengizinkan orang-orang musyrik bergabung bersamanya dalam peperangan dan membantu kaum muslimin, dengan dua syarat: Pertama, jumlah kaum muslimin hanya sedikit dan ada faktor yang mendorong kebutuhan itu. Kedua, orang-orang musyrik tersebut bisa dipercaya dan tidak dikhawatiri akan memberontak.” (Imam Al Hazimi, Al I’tibar fin Naasikh wa Mansuukh, Hal. 219)

Caleg Non Muslim di daerah minoritas

dakwatuna.com – Banyak pertanyaan kepada kami mengenai ini, baik melalui sms atau email. Terkait adanya Partai Islam yang mencalonkan Non Muslim sebagai Caleg (Calon Anggota Legislatif) dari partai Islam tersebut. Yang perlu ditekankan adalah tentunya caleg non muslim tersebut wajib mengakui asas Islam dan platform partai Islam tersebut. Apakah hal keberadaan mereka untuk membantu perjuangan Partai Islam dibenarkan syariat? Ataukah ini hal yang sifatnya situasional dan bisa berlaku bagi daerah tertentu, daerah yang minim umat Islam dan juga lemah keadaannya seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, namun tidak boleh bagi daerah lain yang umat Islam adalah mayoritas dan kuat, seperti pulau Jawa dan Sumatera? Debatable Sejak Lama … Sebenarnya masalah ini bukan permasalahan baru, tetapi sudah terjadi sejak lama; yakni bolehkah dalam perjuangan umat Islam dengan memanfaatkan bantuan orang kafir, baik bantuan dana, persenjataan, atau partisipasi langsung jiwa raga mereka dalam barisan umat Islam. Dahulu, awal tahun 90-an, pasca serangan Irak ke Kuwait, yang akhirnya melahirkan perang teluk pertama, para ulama di kerajaan Arab Saudi memfatwakan bolehnya meminta bantuan Amerika Serikat (saat itu dipimpin oleh George Bush Senior) yang nota bene kafir untuk melawan keberingasan Saddam Husein, seorang Sosialis Aktivis Partai Ba’ts Irak, yang didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen. Mereka menganggap Saddam Husein sudah bukan lagi muslim, baik karena kekejamannya kepada umat Islam Kurdi dan semua lawan politiknya, dan juga karena ideologinya yang Sosialis. Kekafiran Saddam Husein difatwakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Said Hawwa (Syria), Syaikh Abdullah ‘Azzam (Al Filisthini tsumma Al Urduni), dan lainnya. Sederhananya adalah memanfaatkan kekuatan orang kafir untuk melawan orang kafir lainnya, karena keadaan diri yang masih lemah. Fatwa ini, bukan berarti tanpa kritik. Para ulama Arab Saudi sendiri mengkritiknya, khususnya dari para ulama muda semisal Syaikh Salman Fahd Al ‘Audah (Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslimin Sedunia yang diketuai oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi) dan Syaikh ‘Aidh Al Qarny (pengarang kitab Laa Tahzan), yang karena kritikannya itu mereka berdua di penjara oleh pihak Kerajaan. Kritikan juga datang dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah yang tidak menyetujui fatwa tersebut. Sebab, dari fatwa ini yang menjadi korban bukanlah AS dan Saddam Husein dan tentaranya, tetapi rakyat Irak yang muslim. Merekalah yang mengalami penderitaan karena kezhaliman AS dan Saddam Husein saat itu. Lebih lama lagi, gerakan Islam terbesar abad modern, Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir pada masa Al Ustadz Syahidul Islam Hasan Al Banna Rahimahullah juga pernah menempatkan seorang Kristen Koptik (Qibthy) sebagai wakil mereka di parlemen Mesir. Sejak jauh hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang menyebutkan bahwa kaum Koptik akan menjadi penolong perjuangan umat Islam. Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, bahwa menjelang wafat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau berwasiat: الله الله فى قبط مصر فإنكم ستظهرون عليهم فيكونون لكم عدة وأعوانًا فى سبيل الله Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, dalam bergaul dengan kaum Qibthi Mesir. Sesungguhnya kalian akan mengalahkan mereka, dan mereka akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi kalian dalam perjuangan fi sabilillah. (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 561, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 34023)[1] Abdullah bin Yazid dan Amru bin Huraits, dan selainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: إنكم ستقدمون على قوم جعد رؤوسهم فاستوصوا بهم خيرا فإنهم قوة لكم وبلاغ إلى عدوكم بإذن الله ـ يعني قبط مصر ـ Sesungguhnya kalian akan mendatangi kaum yang keriting kepalanya, maka berwasiatlah yang baik-baik dengan mereka, karena mereka akan menjadi kekuatan bagimu, dan menjadi bekal bagimu untuk melawan musuh-musuhmu dengan izin Allah. –yaitu kaum Qibthi Mesir. (HR. Abu Ya’la No. 1473, berkata Husein Salim Asad: para perawinya tsiqaat (terpercaya). Ibnu Hibban No. 6677)[2] Penolong kita adalah Allah, RasulNya, dan Orang-orang beriman Inilah dasar bagi setiap orang beriman, tidak ragu lagi dan tidak diperdebatkan lagi, bahwa mereka menjadikan Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman sebagai tempat memberikan Al Wala. Itulah hizbullah yang dijanjikan kemenangan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Al Wala bukan kepada orang kafir, musyrik, munafiq, ahludh dhalal, dan mubtadi’. Allah Ta’ala berfirman: إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56) Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah (hizbullah) Itulah yang pasti menang. (QS. Al Maidah: 55-56) Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala (loyalitas dan cinta) kepada Yahudi dan Nasrani, dan ini terlarang. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (QS. Al Maidah: 51) Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala kepada orang-orang yang mempermainkan agama. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (57) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu (Yakni Ahli Kitab), dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al Maidah: 57) Apakah makna wali dalam ayat-ayat ini? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berarti penolong dan kekasih. (Imam Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, 9/319) Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang menguasai (pemimpin). (Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582) Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat, dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman. Bagaimana jika keadaan tidak normal; lemah dan masih sedikit Bagaimana jika keadaan umat Islam masih sedikit (minoritas) -tentunya juga masih lemah- bolehkah meminta bantuan mereka dalam sebagian urusan kaum muslimin? Tentunya dalam hal ini adalah Partai Islam di sana memanfaatkan non muslim sebagai wakilnya di parlemen mereka di sana? Sebab, jangankan mencari kadernya sendiri, mencari orang Islam saja tidak mudah. Tentunya adalah sebuah prestasi tersendiri jika ada Partai Islam yang mampu mengajak orang kafir untuk turut membantu perjuangan ideologi dan platform Partai Islam tersebut. Bagaimana bisa seseorang yang tidak meyakini kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak mengakui kebenaran Islam, justru dengan sadar jatuh hati dan tertarik, lalu menawarkan dirinya ikut membantu perjuangan Partai Islam? Lalu, apakah ayat-ayat tentang larangan meminta bantuan kepada orang kafir tetap berlaku dalam keadaan lemah dan minor seperti ini? Ataukah ini situasi yang dimaafkan dan dikecualikan? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukannya Dalam proses perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu memanfaatkan jasa bantuan seorang dari Bani Ad Diil yang beragama kafir Quraisy sebagai petunjuk jalan menuju Madinah. ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bercerita: وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari No. 2264) Ini menjadi dasar bahwa meminta bantuan orang kafir adalah boleh, jika dalam keadaan lemah, dan masih sedikit. Jika memang ini terlarang secara mutlak, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi orang pertama yang mencegah dirinya sendiri untuk melakukan itu dan dia akan serukan kepada segenap manusia. Tetapi, kenyataan justru menunjukkan sebaliknya, saat itu kaum muslimin yang tersisa di Mekkah tinggal berlima; Nabi, Abu Bakar, putranya, Asma, dan Ali. Jumlah yang sedikit dan tentunya lemah. Mereka pun sudah memiliki tugas masing-masing, putranya Abu Bakar tetap berada di Mekkah untuk mengawasi keadaan dan mencari=cari perkembangan berita. Asma Radhiallau ‘Anha bertugas membawakan makanan untuk Nabi dan Abu Bakar, sementara Ali Radhiallahu ‘Anhu berada di rumah nabi menggantikannya setelah nabi dikepung oleh gabungan berbagai kabilah kaum kuffar Quraisy. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah mendapatkan dukungan dari Musyrikin Bani Khuza’ah untuk melawan musuhnya. Juga masih banyak peristiwa-peristiwa lainnya, sebagaimana yang nanti kami lampirkan. Pandangan Para Ulama Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang peristiwa hijrah tersebut: وَفِي الْحَدِيثِ اسْتِئْجَارُ الْمُسْلِمِ الْكَافِرَ عَلَى هِدَايَةِ الطَّرِيقِ إِذَا أُمِنَ إِلَيْهِ واستئجار الْإِثْنَيْنِ وَاحِدًا على عمل وَاحِد جَازَ Dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim mengupah orang kafir untuk membantunya memberikan petunjuk jalan jika hal itu aman baginya, dan juga dua orang yang mengupah satu orang dalam satu perbuatan, itu adalah diperbolehkan. (Fathul Bari, 4/442-443) Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan: عامة الفقهاء، يجيزون استئجارهم – أي المشركين – عند الضرورة وغيرها لما في ذلك من المذلة لهم، وإنما الممتنع أن يؤاجر المسلم نفسه من المشرك لما فيه من إذلال المسلم Kebanyakan ahli fiqih membolehkan mengupah mereka –yaitu kaum musyrikin- ketika kebutuhannya mendesak dan selainnya, dan karena hal itu dapat merendahkan mereka (musyrikin), sebaliknya seorang muslim janganlah menjadi orang yang diupah oleh kaum musyrikin, karena hal itu dapat merendahkan seorang muslim. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 6/387) Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: في استئجار النبي صلى الله عليه وسلم عبد الله بن أريقط الدؤلي هاديا في وقت الهجرة وهو كافر دليل على جواز الرجوع إلى الكافر في الطب والكحل والأدوية والكتابة والحساب والعيوب ونحوها ما لم يكن ولاية تتضمن عدالة ولا يلزم من مجرد كونه كافرا أن لا يوثق به في شيء أصلا فإنه لا شيء أخطر من الدلالة في الطريق ولا سيما في مثل طريق الهجرة. Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengupahi Abdullah bin Uraikith Ad Du’aliy sebagai orang yang menunjuki jalan pada waktu hijrah, dia dalam keadaan kafir, menunjukkan bolehnya merujuk kepada orang kafir dalam hal kedokteran, pengobatan, tulis menulis, menghitung, dan semisalnya, selama pertolongan itu tidak mengandung semakin kuatnya kekafirannya, maka tidak apa-apa memintanya sebagai petunjuk jalan apalagi jalan untuk hijrah. (Bada’i Al Fawaid, 3/208) Imam Al Hazimi mengatakan: وذهبت طائفة: إلى أن للإمام أن يأذن للمشركين أن يغزوا معه ويستعين بهم ولكن بشرطين: (1) أن يكون في المسلمين قلة وتدعو الحاجة إلى ذلك. (2) أن يكونوا ممن يوثق بهم فلا تخش ثائرتهم. Segolongan ulama berpendapat: “Pemimpin bisa mengizinkan orang-orang musyrik bergabung bersamanya dalam peperangan dan membantu kaum muslimin, dengan dua syarat: Pertama, jumlah kaum muslimin hanya sedikit dan ada faktor yang mendorong kebutuhan itu. Kedua, orang-orang musyrik tersebut bisa dipercaya dan tidak dikhawatiri akan memberontak.” (Imam Al Hazimi, Al I’tibar fin Naasikh wa Mansuukh, Hal. 219)untuk lebih jelasnya klik

Monday, 22 April 2013

Virtualisasi PKS

Oleh Ribut Lupiyanto Twitland belakangan ini ramai oleh kicauan menyambut bergabungnya Presiden SBY di Twitter dengan akun @SBYudhoyono. Pro dan kontra, apresiasi dan caci maki, hingga apatis dan iseng mewarnai sambutan warga Twitland. Itulah realita yang terjadi dan memang sudah menjadi fenomena membudaya di dunia maya kita. Lepas dari hal itu yang patut dicermati adalah fenomena berbondong-bondongnya parpol dan politisi bergerilya ke dunia maya. Memasuki tahun politik aktivitas dunia maya khususnya jejaring sosial semakin ramai dan panas. Salah satu hal yang menarik dan belum pernah diatur pada Pemilu 2009 adalah masuknya kesempatan parpol berkampanye melalui media virtual. Peraturan KPU No 01 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilu pada Pasal 20 menegaskan bahwa kampanye pemilu salah satunya dapat berbentuk layanan pesan singkat dan jejaring sosial melalui Facebook, Twitter, email, website dan lainnya yang bertujuan mempengaruhi atau mendapat dukungan. Hal ini perlu diapresiasi sekaligus dapat dioptimalkan oleh partai politik dan caleg. Demokrasi di era informasi sangat kental dengan politik citra. Yasraf A. Piliang (2005) menyebutkan fenomena politik seperti ini sebagai ontologi citra (being images). Politik citra memiliki konotasi positif sekaligus negatif. Politik citra yang positif hanya mengemas realita agar benilai politis, sedangkan politik citra negatif adalah mempolitisasi atau merekayasa suatu keadaan dengan menyembunyikan atau bersifat seakan-akan. Positif atau negatifnya politik citra yang hadir sepenuhnya menjadi komitmen serta moralitas partai dan politisi. Lepas dari isinya, kampanye virtual menjadi media efektif untuk melakukan politik citra. Virtualitas Berbicara kemampuan virtual parpol, menarik untuk menjadikan PKS sebagai studi kasusnya. PKS memasuki tahun politik 2013 dengan kondisi negatif. Pascapenetapan LHI sebagai tersangka oleh KPK, PKS seakan berada di titik lembah yang dalam. Tetapi sedikit demi sedikit PKS mampu menetralisasi, bahkan berbalik membuahkan kemenangan di Pemilukada Jabar dan Sumut. Manajemen rapi dan kader solid adalah kunci utama keberhasilan PKS melewati badai politik yang melandanya. Salah satu aksi yang digunakan untuk menetralisasi keadaan adalah optimalisasi media sosial. Didominasi kader melek teknologi PKS cukup cekatan untuk menguasai opini. Semua kader, pengurus, dan pejabat publik konon diwajibkan untuk aktif di jejaring sosial media. Sejak 2010 PKS sudah membentuk ‘Satgas Online’ di seluruh Indonesia. PKS di awal 2013 juga menggulirkan ‘Gerakan Sejuta Tulisan PKS’. Setiap ada tulisan tentang PKS dipastikan akan banjir komentar. Setiap opini tentang PKS juga sering menjadi trending topic. Bukti lainnya adalah website PKS menjadi satu-satunya website parpol yang masuk “The Top 500 Sites in Indonesia”. Website PKS itu bukan milik DPP, DPW, atau DPD, melainkan milik DPC (pengurus tingkat kecamatan) yang pasti dikelola dengan keterbatasan. Website itu milik PKS Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul Provinsi DIY (www.pkspiyungan.org). Menurut pemeringkatan Alexa Internet-Inc (USA) menempati posisi ke-479 dari seluruh website dan posisi ke-5 dari website Islam pada awal Maret 2013. Statistik website ini menunjukkan angka fantastis yaitu rata-rata mencapai kisaran 100.000 kunjungan per hari. Kiranya parpol lain dapat meniru strategi dan kemampuan virtual PKS. Virtualisasi politik tentu akan banyak menekan ongkos politik yang selama ini menjadi dilema. Virtualisasi politik juga akan menjadi pintu pembuka menuju modernisasi pemilu. Gaya dan mekanisme virtual pun dituntut bagi penyelenggara pemilu. KPU perlu memikirkan sistem online dalam pendaftaran caleg, pendaftaran pemilih, hingga pemungutan suara. BAWASLU dapat mengimplementasikan pula untuk pengaduan pelanggaran pemilu. Bahkan, DKPP dapat menyelenggarakan sidang-sidang menggunakan perangkat virtual. Jika hal ini terlaksana biaya pemilu yang disedot dari APBN tentu dapat banyak ditekan dan dapat dialihkan untuk program kesejahteraan rakyat. Daya Elektoral Parpol dan caleg sudah semestinya serius menggarap media virtual sebagai sarana kampanye pemilu. Kementerian Kominfo RI mencatat pada tahun 2012 pengguna internet mencapai 55 juta orang, Facebook 44,6 juta orang, dan Twitter 19,5 juta orang di Indonesia. Angka ini tentu menjadi pangsa pasar politik yang potensial. Artinya, jika digarap serius maka bukan tidak mungkin kampanye virtual akan jauh memiliki daya elektoral dibandingkan kampanye konvensional. Kampanye virtual memiliki daya jual bagi parpol dan caleg karena beberapa keunggulannya. Pertama adalah ramah lingkungan. Kampanye ini sangat efektif meminimalisasi hadirnya sampah visual dan fisikal di setiap musim kampanye pemilu. Hal ini sesuai amanat Peraturan KPU Nomor 01 Tahun 2013 yang menggariskan bahwa kampanye harus berprinsip ramah lingkungan. Kedua, kampanye virtual lebih efektif. Dalam waktu singkat kampanye ini mampu menjangkau wilayah luas dan objek pemilih yang tidak terbatasi oleh jarak dan luas. Ketiga, ongkosnya murah. Biaya hanya dibutuhkan untuk desain, membuat domain, akses internet, dan atau insentif admin. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan kampanye tatap muka. Keempat, kampanye virtual dapat menekan praktek politik uang, sebab komunikasi tidak dilakukan dengan bertatap muka langsung. Kelima, memiliki ruang dan waktu yang tidak terbatas dalam menyampaikan gagasan dan visi-misi politik. Kampanye ini juga tidak menutup ruang komunikasi, karena pola dua arah masih bisa dilakukan. Prospek kampanye virtual yang menjanjikan tentu tidak lantas dapat dimaknai dengan aplikasi tanpa batas. Regulasi kepemiluan harus tetap ditegakkan. Etika komunikasi dunia maya penting pula untuk dijunjung tinggi. Yang tidak kalah penting adalah praktek kampanye virtual mesti memegang komitmen politik santun, bermoral, dan bertanggungjawab. Kampanye virtual bukannya tanpa resiko dan hambatan. Hambatan datang karena ketergantungan teknologi. Bagi caleg, susah menyeleksi mitra komunikasi agar efektif dari daerah pemilihan setempat. Pelanggaran hukum dalam pelaksanaannya juga sama sanksinya dengan kampanye konvensional. Perlu diperhatikan sekali melakukan blunder dalam berkomunikasi di dunia maya tidak mustahil akan justru kontra produktif. Kunci pentingnya adalah bagaimana mengemas strategi berbasis isu dalam kampanye virtual ini. Sudah hampir 3 bulan jadwal kampanye berjalan, namun geliatnya masih belum hangat. Semoga parpol tidak mengandalkan detik-detik akhir yang berpotensi menghadirkan politik uang yang haram. Kampanye virtual adalah alternatif, solusi, sekaligus strategi yang berdaya jual dan layak dipertimbangkan. Rakyat yang akan memilah dan memilih mana yang positif dan mana yang negatif. Kita tunggu sejauh mana virtualitas PKS yang kini genap berusia 15 tahun mampu berbuah elektabilitas sesuai target 3 besar yang dicanangkan. [] *http://lupy-indonesia.blogspot.com/2013/04/virtualitas-pks.html

Menuju 2014 Dalam Cinta, Kerja Harmoni, PKSPiyungan

By Nina Mariana Jakarta Ketika cinta telah terpaut karena Allah SWT dalam hati kita, kecenderungan untuk selalu bersama pasti akan tumbuh. Impian mewujudkan keselarasan dalam kebersamaan kian membuncah. Setiap perbedaan, penghalang atau jarak yang ada tak akan menjadi kendala berarti. Justru keindahan yang akan terpancar apabila pribadi-pribadi yang penuh cinta ini dapat bersatu, saling mengisi, dalam wujud kasih sayang nyata sehingga tercipta keselarasan yang diidamkan. Menjaga suatu hubungan agar tetap harmonis adalah usaha yang harus diupayakan. Kaitannya dengan partai ini (PKS) adalah impian atau cita-cita kemenangan untuk dapat menembus tiga besar dalam pemilu 2014. Terlepas sebuah impian itu membumi atau tidak, realistis atau tidak, kemustahilan atau tidak. Namun dibalik impian itu terkandung suatu makna yang besar, yaitu misi kemanusian dan misi peradaban (seperti yang telah dituturkan oleh presiden PKS Anis Mata) bahkan demi terciptanya sepenggal firdaus. Sungguh suatu impian yang jauh dari keegoisan semata. Harus diiringi kerjasama yang nyata. Menekankan pada kerja-kerja nyata dalam tubuh PKS. Sejauh ini, kita sudah sering merasa takjub menyaksikan bagaimana seorang kader biasa dapat bekerja sangat luar biasa. Berapa jumlah kader dalam partai ini? Bagaimana bisa menciptakan kerja yang luar biasa dari seorang kader biasa? Sehingga kerja-kerja tersebut sangat efektif dalam membangun tubuh partai. Terfokus pada dua hal, yaitu penggerak kader dan dinamika kader. Penggerak kader merupakan segala hal yang dilakukan kader adalah dampak yang diberikan tubuh partai itu sendiri. Sebagai contoh pertemuan pekanan yang rutin kader PKS lakukan merupakan hal yang sangat efektif sebagai jembatan antara elite politik dan kader, sebagai wadah dalam menyerap segala ilmu atau informasi, sebagai pencetus untuk melakukan suatu proyek bersama yang dapat meningkatkan kehamonisan masing-masing kader , disitu letaknya saling mengisi. Setiap kader pasti berbeda namun suatu kerjasama akan menciptakan keselarasan atau harmoni. Dalam pertemuan pekanan ini juga, setiap kader akan merasa terikat, entah adanya suatu ikatan yang lemah atau ikatan yang kuat, terkait komitmen dan konsistensi tentunya, dan dengan sendirinya akan tersaring dan akan menghasilkan suatu keluaran yang optimal. Dinamika kader merupakan pengaruh kader terhadap tubuh partai, terhadap lingkungan sekitarnya atau lingkup yang lebih luas lagi yaitu terhadap negeri ini. Sesuai fungsi, peranan, atau kemampuan masing-masing kader yang senantiasa mengalami proses perubahan, perkembangan dan penyesuaian diri seiring dengan situasi dan kondisi yang ada, termasuk menyesuaikan diri terhadap konflik-konflik yang terjadi. Erat kaitannya dengan interaksi antar individu dalam satu tubuh partai maupun dengan individu diluar partai. Disini terlihat adanya ketergantungan, adanya pengaruh yang kuat antara satu dengan yang lain, adanya kebutuhan untuk bekerjasama, untuk saling tolong menolong. Khususnya dalam mewujudkan impian atau cita-cita bersama. Sehingga perlu kita sadari bahwa keefektifan kerja kader akan meningkatkan kualitas suatu partai. Sebagai penutup dalam setiap rangkaian kerja harmoni kita, mari kita lantunkan doa perekat hati : “Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati kami telah berkumpul karena cinta-Mu, bertemu karena ketaatan pada-Mu, bersatu atas dakwah-Mu, maka kuatkanlah Ya Allah ikatan itu, kekalkan cinta itu, berilah petunjuk atasnya, dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu. Dan hidupkanlah dengan pengetahuan dari sisi-Mu, dan matikanlah ia dalam keadaan mati syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarga, dan kepada semua sahabatnya.” *penulis: @mariananina3 on twitter

PKS

Partai Keadilan Sejahtera