PKS didirikan pada 1998 oleh para aktivis tarbiyah dan pernah bintang baru di panggung politik Indonesia.
Dengan perolehan suara 7,9 % pada pemilu 2009, PKS mengambil alih posisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai berbasis Islam terbesar di Indonesia, predikat yang dipegang PPP selama 36 tahun.
PKS juga menjadi salah satu anggota koalisi partai-partai penyokong pemerintahan pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Belakangan citranya ternodai oleh kasus korupsi yang melibatkan presiden partai, Luthfi Hasan Ishaaq.
Anis Matta kemudian mengambil alih kepemimpinan partai dari tangan Luthfi sejak Februari 2013. Kepada reporter The Jakarta Post, Hasyim Widhiarto Anis berbicara tentang masa depan partai serta alasan dibalik deklarasi PKS sebagai partai terbuka.
Pertanyaan (P): Anda telah terlibat dalam kepemimpinan partai sejak
awal pembentukannya, sebagai sekretaris umum dan kemudian sekarang
sebagi presiden. Apa prestasi terbesar PKS selama 15 tahun ini?
Jawaban (J) : Kami merintis partai dari dukungan dari kelompok-kelompok
kecil. Meskipun demikian, demokrasi dan kebebasan berpolitik pasca
reformasi telah memberikan kami ruangan untuk tumbuh dan berkembang.
Kami menghabiskan 10 tahun pertama untuk mengembangkan kapasitas
organisasi sekaligus juga berekspansi. Hasil dari kerja keras ini dapat
dilihat dari peningkatan jumlah kader.
Pada tahun 1999, kami hanya memiliki sekitar 30.000 kader. Jumlah
tersebut kemudian berkembang menjadi 400.000 pada tahun 2004 dan terus
bertambah hingga sekarang. Pertumbuhan jumlah basis pendukung telah
membantu kami memperluas jangkauan organisasi. Partai kami telah
memiliki cabang di seluruh provinsi, kota dan kabupaten, 70 % di tingkat
kabupaten dan 52 % di tingkat kecamatan.
P: Sebagai partai dakwah yang mengklaim berjuang untuk keadilan dan
kesejahteraan, apakah PKS telah berada di jalur yang benar untuk
mewujudkan visi ini?
J: Selain fokus pada pengembangan organisasi, kami juga berusaha keras
untuk mengaktualisasikan secara bertahap, visi dari organisasi terutama
visi tentang Indonesia. Kami menyadari, bahwa sudah sekian lama partai politik Indonesia terjebak apa yang disebut sebagai politik aliran.
Sejak awal, PKS ingin menghapuskan pemahaman politik aliran, sehingga
polarisasi ideologi tidak akan mencegah partai politik untuk fokus pada
pembahasan permasalahan hal-hal yang terkait dengan negara. Hal ini juga
yang menjelaskan mengapa hampir seluruh partai politik berbasis Islam
di Indonesia selama ini kesulitan menghadapi 'ketegangan segitiga' yang
melibatkan Islam, modernitas dan identitas ke-Indonesia-an.
P: Bagaimana Anda meyakinkan golongan minoritas yang mungkin merasa terancam dengan misi dakwah PKS?
J: Selain politik aliran, tidak ada
alasan kuat dari publik untuk mengkhawatirkan eksistensi kami. Banyak
permasalahan yang terkait dengan kelompok minoritas, telah berhasil
dituntaskan selama era pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), di mana
kami juga berperan didalamnya. Jadi intinya, tidak ada lagi
permasalahan sensitif terkait agama dan etnisitas.
P: Bagaimana misi dakwah ini bisa berjalan beriringan dengan upaya PKS menjadi partai yang terbuka, yang inklusif?
J: Kami tentu akan terus berkampanye sebagai partai terbuka, sebagai
bagian dari upaya untuk mengendurkan 'ketegangan segitiga' antara Islam,
modernitas dan identitas kebangsaan Indonesia. PKS ingin menjadi bagian
dari Indonesia dan bekerjasama dengan pihak-pihak lain.
Gagasan tentang keterbukaan juga menunjukan langkah perkembangan dari
PKS. Kami ingin mengatakan bahwa kami tidak hanya mewakili kepentingan
dari kelompok kami atau umat Islam saja, melainkan Indonesia sebagai
bangsa secara keseluruhan, dengan berbagai ragam perbedaan latar agama,
etnis dan ideologi.
P: Anda mengambil tindakan yang berani setelah penangkapan Luthfi,
termasuk ajakan kepada para kader untuk melakukan tobat nasional.
Seberapa efektifkah strategi tersebut dalam mengembalikan citra partai
menuju pemilu?
J: Tentu saja kami merasakan efek negatif dari kasus korupsi ini
terhadap popularitas partai. Tetapi sejauh ini, strategi penanganan
masalah yang telah kami ambil, yaitu mengontrol dampak negatif dari
kasus itu (damage-control strategy), telah membantu mengatasi hampir
semua efek negatif dari kasus korupsi tersebut.
Hal ini menjelaskan, sebagai contoh, mengapa kami masih dapat
memenangkan pemilihan gubernur, seperti di Jawa Barat dan Sumatera Utara
dan juga beberapa pemilihan bupati dan walikota. Kemenangan kemenangan
tersebut mengindikasikan bahwa kami telah meraih kembali kepercayaan
publik.
P: Meskipun sudah ada pola rekruktmen kader yang terstruktur,
beberapa kader PKS terindikasi dalam kasus korupsi atau kasus pidana
dalam beberapa tahun terakhir ini. Apakah Anda berencana membuat
beberapa perubahan?
J: Kami terus mengevaluasi mekanisme perekrutan kader dan membuat
penyesuaian yang diperlukan setiap 5 tahun. Namun tentunya kami perlu
mengumpulkan dan mengevaluasi data, termasuk data yang terkait dengan
pelanggaran hukum maupun moral (oleh kader PKS), sebelum membuat
perubahan besar. Jelas bahwa partai perlu membuat penyesuaian rutin
dalam berbagai aspek.
P: Calon presiden seperti apakah yang akan didukung oleh PKS di tahun 2014?
J: Kami mencari sosok yang dapat mewakili kepentingan dari golongan
kelas menengah baru, yang sekarang telah menjadi kelompok mayoritas
dalam struktur demografi kita. Mereka akan menjadi golongan yang dominan
dalam membentuk masa depan bangsa kita. Kita harus mengamati secara
teliti peralihan antargenerasi ini. Siapa pun presidennya, dia harus
mengerti wacana yang berkembang dari golongan ini.(*)
*Diterjemahkan oleh admin @PKSInggris
(sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2014/01/15/pks-wants-represent-interests-entire-nation-says-anis.html)

No comments:
Post a Comment
Kritik dan saran serta komentar anda adalah perhatian kami